Iran secara tegas menyatakan bahwa solusi perdamaian di Gaza mustahil terwujud jika pendudukan Zionis Israel atas wilayah Palestina belum diakhiri. Pernyataan ini disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menanggapi inisiatif Dewan Perdamaian Gaza yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. "Kami percaya, seberapa pun solusi damai dibahas, selama penjajahan masih berlangsung, upaya itu tidak akan membuahkan hasil. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengakhiri penjajahan terhadap wilayah Palestina,” ujar Boroujerdi di Jakarta, Kamis.
Dewan Perdamaian Gaza, yang anggotanya meliputi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus Trump Steve Witkoff, dan menantu Trump Jared Kushner, bertugas mengawasi transisi Gaza menuju perdamaian dan pembangunan pasca-agresi Zionis Israel. Indonesia sendiri telah menyatakan kesediaannya bergabung dalam dewan ini, sebagaimana rilis pernyataan bersama Kementerian Luar Negeri RI dengan tujuh negara Arab dan Islam lainnya. Meski demikian, Iran menilai pendekatan yang melanjutkan proses perdamaian tanpa mengakhiri pendudukan adalah keliru, diibaratkan seperti pihak yang menduduki sebagian rumah lalu mengajak pemiliknya berunding. Namun, Boroujerdi menegaskan bahwa Iran menghormati keputusan negara-negara lain yang memilih bergabung, mengakui adanya kepentingan nasional dan pertimbangan politik yang berbeda.
Inisiatif AS ini juga mengundang puluhan negara untuk berpartisipasi, namun tidak sepenuhnya disambut positif secara internasional. Beberapa negara Eropa menyuarakan kekhawatiran bahwa Dewan Perdamaian Gaza berpotensi menggeser peran sentral Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam penanganan konflik global. Dengan demikian, di tengah beragam respons dan pendekatan, Iran tetap pada pendiriannya bahwa akar masalah, yakni penjajahan Zionis Israel, harus menjadi prioritas utama yang diselesaikan sebelum perdamaian sejati di Gaza dapat terwujud.
Sumber:
Baca Selengkapnya