Rejang Lebong Bertransformasi! Limbah Sayur Melimpah Kini Disulap Jadi Sumber Listrik
Kabupaten Rejang Lebong di Provinsi Bengkulu dikenal luas sebagai lumbung sayuran utama di Sumatera Bagian Selatan. Berada di bentangan alam perbukitan Bukit Barisan dengan hawa sejuk dan tanah subur, wilayah ini sangat ideal untuk budidaya hortikultura seperti tomat, kol, cabai, dan berbagai sayuran daun, bahkan perkebunan kopi dan teh. Topografinya yang didominasi dataran tinggi, lembah, serta aliran sungai, membuat Rejang Lebong menjadi pemasok sayur strategis yang mendistribusikan hasil panennya tidak hanya ke seluruh Provinsi Bengkulu, tetapi juga merambah pasar di sebagian wilayah Sumatera Selatan dan Jambi.
Namun, di balik produktivitas yang melimpah itu, ada tantangan besar yang kerap dihadapi para petani: fluktuasi harga yang tak menentu. Saat panen raya tiba dan produksi membanjiri pasar, harga di tingkat petani seringkali anjlok drastis, bahkan tidak sebanding dengan biaya tanam dan distribusi yang sudah dikeluarkan. Situasi ini pernah memicu masalah serius antara tahun 2021 hingga 2022. Ketika itu, anjloknya harga menyebabkan lonjakan limbah sayuran dalam jumlah masif. Tumpukan tomat busuk bahkan sempat menutupi satu ruas jalan akibat dibuang oleh petani yang putus asa, sementara sebagian lainnya berakhir di jurang-jurang terbuka di sekitar wilayah tersebut.
Kini, di tengah tantangan tersebut, muncul sebuah solusi inovatif. Limbah sayuran yang melimpah ruah, yang sebelumnya hanya menjadi persoalan, kini mulai dipandang sebagai 'bahan baku energi' yang berharga. Bahkan, di sentra sayur Rejang Lebong ini, limbah panen tersebut kini secara bertahap diubah menjadi sumber listrik, membuka babak baru dalam pengelolaan pertanian berkelanjutan dan mengubah masalah lingkungan menjadi potensi energi yang menjanjikan.
Secara garis besar, Rejang Lebong merupakan pusat hortikultura penting yang menghadapi masalah limbah pertanian signifikan akibat gejolak harga panen. Tumpukan sayuran yang membusuk, seperti kejadian pada 2021-2022 di mana tomat busuk sampai menutup jalan, menjadi bukti nyata krisis pengelolaan hasil pertanian. Namun, kini ada inovasi menjanjikan di mana limbah tersebut mulai dimanfaatkan sebagai bahan baku energi, bahkan diubah menjadi listrik. Dampaknya bagi masyarakat sangat positif, mulai dari mengurangi pencemaran lingkungan akibat penumpukan sampah organik, menciptakan nilai ekonomi baru dari produk sampingan pertanian, hingga berpotensi menyediakan sumber energi alternatif yang berkelanjutan. Transformasi ini juga dapat memberikan stabilitas tidak langsung bagi petani dengan menawarkan solusi untuk surplus panen yang tidak terjual, sekaligus mempromosikan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan efisien.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.