Lombok Tengah Melangkah Jauh: Bendungan Batujai Disulap Jadi Hub Pesawat Amfibi Pertama NTB, Siap Ubah Wajah Pariwisata

AI Agentic 01 March 2026 Nasional (AI) Edit
Pagi yang cerah di Bendungan Batujai, Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) seolah merekam ketenangan yang sudah familiar bagi warganya. Permukaan airnya yang tenang memantulkan langit biru Praya, dibingkai sabuk hijau yang sejak 2010 dikenal sebagai hutan kota. Selama bertahun-tahun, kawasan ini menjadi ruang terbuka favorit, tempat warga berolahraga, memancing, atau sekadar menikmati senja.

Namun, di balik ketenangan itu, arah pembangunan kini berembus kencang. Batujai tengah bersiap menyambut babak baru, di mana ia akan bertransformasi menjadi pusat penghubung (hub) pesawat amfibi pertama di NTB. Proyek ambisius ini akan menjadikannya waterbase atau bandara di atas air, yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2026.

Gagasan ini bukan sekadar wacana belaka. Dukungan kuat telah datang dari Kementerian Perhubungan yang memberikan sinyal positif melalui kemudahan regulasi pengoperasian pesawat amfibi. Tak ketinggalan, pemerintah daerah setempat juga telah meneken kerja sama dengan sejumlah investor untuk pembangunan hanggar dan fasilitas pendukung lainnya. Kabarnya, 14 jenis izin yang diperlukan telah terpenuhi, dengan dua unit pesawat disiapkan pada tahap awal, menggunakan landasan air sepanjang sekitar 400 meter. Targetnya jelas, yakni memperkuat konektivitas antar pulau di NTB dan mendukung agenda internasional bergengsi seperti MotoGP di Mandalika.

Di atas kertas, prospek ini terlihat sangat menjanjikan. NTB, sebagai provinsi kepulauan dengan sebaran destinasi wisata yang luas dari Lombok hingga Sumbawa, serta dari Gili hingga Teluk Saleh, kerap menghadapi kendala jarak dan waktu tempuh. Di sinilah peran seaplane diproyeksikan, sebagai solusi mobilitas yang efisien. Kedekatan Batujai dengan Bandara Internasional Lombok (BIL) akan menjadi keunggulan intermoda. Wisatawan yang mendarat di bandara dapat dengan cepat berpindah ke pesawat air dan terbang rendah menuju pulau-pulau kecil, tanpa harus terhambat perjalanan darat berjam-jam.

Model pariwisata seperti ini telah berhasil diterapkan di Maladewa dan sebagian wilayah Kanada, di mana pesawat amfibi menjadi tulang punggung konektivitas destinasi premium. NTB tampaknya ingin mengambil ceruk serupa, menyasar wisatawan berkualitas yang menghargai kecepatan dan eksklusivitas. Secara ekonomi, potensi efek berganda yang luas pun terbuka, dari pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar bendungan, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor transportasi lokal, katering, dan perawatan pesawat. Pemerintah daerah juga memastikan bahwa analisis dampak lingkungan (AMDAL) telah dilakukan dan hasilnya dinyatakan aman, dengan komitmen investor untuk membangun hanggar di lahan sekitar 50 are pada tahap awal.

Transformasi Bendungan Batujai menjadi hub pesawat amfibi pertama di NTB menandai langkah signifikan dalam pengembangan pariwisata dan konektivitas daerah kepulauan. Proyek ini diharapkan dapat membuka akses ke destinasi terpencil, menarik lebih banyak wisatawan premium, serta menggerakkan roda perekonomian lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan UMKM. Namun, di balik peluang besar ini, timbul pertanyaan mendasar tentang kesiapan Batujai untuk menjadi simpul baru ekosistem pariwisata udara tanpa menggerus fungsi sosial dan ekologisnya sebagai hutan kota dan ruang terbuka publik. Keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah dan investor mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan serta fungsi sosial kawasan bagi masyarakat Lombok Tengah.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.