Presiden terpilih Prabowo Subianto tampil mencuri perhatian di panggung World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Kamis sore waktu setempat. Di hadapan para pemimpin global, ekonom, dan akademisi, Prabowo memaparkan strategi ambisius untuk memimpin Indonesia, mulai dari program kesejahteraan sosial hingga hilirisasi sumber daya alam dan upaya kemandirian pangan-energi. Ia menegaskan komitmennya untuk menjalankan pemerintahan dengan standar internasional, salah satunya melalui kehadiran Danantara, lembaga pengelola kekayaan negara (sovereign wealth fund) Indonesia yang kini mengelola aset fantastis senilai satu triliun dolar AS. Kehadiran Danantara disebutnya sebagai penanda bahwa Indonesia siap menjadi mitra setara di forum-forum internasional, tidak hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai kekuatan investasi yang membiayai industri masa depan.
Prabowo tidak hanya menggembar-gemborkan angka. Danantara akan menjadi instrumen kunci reformasi BUMN, merampingkan jumlahnya secara drastis dari 1.044 menjadi maksimal 300 demi efisiensi dan tata kelola berkelas dunia. Ia bahkan membuka peluang merekrut ekspatriat untuk mengisi posisi kepemimpinan, mencari "otak dan pikiran terbaik yang ada di dunia." Sejalan dengan transformasi ekonomi, ia juga membeberkan program prioritas yang menyentuh langsung kesejahteraan rakyat, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), pembangunan Sekolah Rakyat, renovasi sekolah, hingga pembangunan kampus-kampus berstandar internasional. Program-program ini, menurutnya, adalah investasi jangka panjang pada sumber daya manusia yang fundamental bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Tak kalah penting, Presiden Prabowo menegaskan komitmen pemerintah terhadap pemberantasan korupsi dan penegakan hukum yang tegas. Ia mengungkapkan, di awal pemerintahannya, telah berhasil membongkar penyelewengan besar di sektor bahan bakar minyak (BBM) dan minyak kelapa sawit, serta menyita 4 juta hektare perkebunan dan tambang ilegal. Praktik-praktik tersebut, yang ia sebut sebagai "greed economy" atau ekonomi serakah, akan ditindak tegas demi menciptakan iklim usaha yang bersih dan berkeadilan. Pidato di Davos ini mengirimkan pesan kuat: Indonesia bukan hanya negara yang stabil dan damai, tetapi juga destinasi investasi yang menawarkan peluang besar dengan tata kelola yang transparan dan fokus pada pembangunan yang merata. Langkah-langkah strategis ini diharapkan dapat membawa Indonesia pada pertumbuhan ekonomi yang signifikan dan berkelanjutan, mengejutkan dunia, serta meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat secara substansial.
Sumber:
Baca Selengkapnya