Presiden RI Prabowo Subianto akhirnya membuka alasan di balik ketidakhadirannya sebagai salah satu pembicara kunci pada World Economic Forum (WEF) 2025. Ia mengaku, kala itu ia baru dua bulan menjabat sebagai presiden, sehingga merasa belum memiliki cukup pencapaian konkret yang bisa dipaparkan, alih-alih hanya "kata-kata manis." Namun, berbeda pada WEF 2026 di Davos, Swiss, Prabowo hadir dengan penuh keyakinan dan kebanggaan atas progres yang telah dicapai pemerintahannya.
Di hadapan para pemimpin dunia, Prabowo membeberkan lompatan kemajuan dalam setahun pertama kepemimpinannya sejak dilantik Oktober 2024. Ia menyebut Kabinet Merah Putih telah berhasil melakukan reformasi luar biasa, termasuk menghapus ratusan peraturan yang dinilai "tidak masuk akal," menghambat keadilan, dan memicu korupsi. Penekanan diberikan pada pentingnya administrasi publik yang efisien dan budaya birokrasi yang melayani kepentingan umum, bukan bersekongkol dengan pengusaha serakah dan rakus.
Prabowo juga secara lugas mengundang investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, menekankan bahwa stabilitas politik dan ekonomi, serta kepastian penegakan hukum yang adil, adalah prasyarat mutlak yang dijamin oleh pemerintahan yang kuat, bersih, dan demokratis. "Indonesia saat ini menawarkan pertumbuhan berkelanjutan dengan stabilitas," tegasnya, menegaskan bahwa negaranya mengedepankan bukti nyata daripada sekadar pamer. Pernyataan ini menunjukkan komitmen kuat pemerintahannya untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif sekaligus menyoroti prioritas pada tata kelola yang bersih dan efisien demi kemajuan bangsa di mata global.
Sumber:
Baca Selengkapnya