Banjir dan Longsor Kembali Terjang Aceh Tengah: Dua Jembatan Darurat Roboh, Sejumlah Desa Terisolir!
Aceh Tengah kembali dilanda bencana hidrometeorologi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak Selasa sore (31/3). Banjir bandang dan tanah longsor menghantam sejumlah kecamatan, menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur vital dan membuat beberapa desa kembali terisolir.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Bahron Bakti, mengonfirmasi insiden ini dalam laporannya pada Rabu (1/4). Ia menyatakan bahwa banjir bandang dan tanah longsor telah melanda beberapa kecamatan di Aceh Tengah. Berdasarkan data yang diterima dari petugas Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops), daerah yang terdampak meliputi Desa Sepakat di Kecamatan Celala, Desa Gele Pulo serta ruas Jalan Bintang – Simpang Kraf di Kecamatan Bintang.
Tak hanya itu, bencana juga menerjang Desa Lumut dan jembatan Kala Ili di Kecamatan Linge, kemudian Desa Mendale dan Paya Kumbi di Kecamatan Kebayakan. Dampak terparah terlihat di Kecamatan Ketol, di mana dua jembatan darurat yang sebelumnya telah dibangun pascabencana hidrometeorologi beberapa waktu lalu, kini ambruk kembali diterjang arus.
Bahron Bakti menjelaskan, ambruknya dua jembatan darurat ini memiliki konsekuensi serius. Akibatnya, sejumlah desa di Kecamatan Ketol dilaporkan kembali terisolir, memutus akses transportasi warga. Meskipun demikian, ia memastikan bahwa tidak ada korban jiwa maupun warga yang mengungsi akibat serangkaian bencana banjir bandang dan tanah longsor ini.
Saat ini, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah bergerak cepat di lapangan. Mereka terus melakukan berbagai upaya penanganan, termasuk mengerahkan sebanyak tiga unit alat berat menuju lokasi ambruknya jembatan untuk memulai perbaikan. Jalan Bintang – Simpang Kraf dilaporkan telah normal kembali dan dapat dilalui. Sementara itu, mobilisasi alat berat tengah diupayakan guna pembuatan jembatan darurat baru demi mengembalikan konektivitas di wilayah yang terdampak.
Peristiwa ini menyoroti kerentanan wilayah Aceh Tengah terhadap bencana hidrometeorologi yang kerap berulang, terutama dengan ambruknya kembali jembatan darurat yang vital bagi konektivitas desa. Kondisi ini tidak hanya menghambat mobilitas warga tetapi juga berpotensi mengganggu distribusi logistik dan aktivitas ekonomi lokal, sehingga menuntut perhatian serius terhadap pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh dan berkelanjutan di daerah rawan bencana ini.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.