Menag Nasaruddin Umar Serukan Ekoteologi dan Kompas Moral Agama di Era AI
KAIRO – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti pentingnya ekoteologi serta peran agama dan kesadaran kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI). Hal ini disampaikan dalam konferensi internasional yang diselenggarakan Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir, Senin (19/1/2026).
Dalam pidatonya di hadapan para ulama, cendekiawan, intelektual, dan peneliti dari berbagai negara, termasuk Menteri Wakaf sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir, Prof. Dr. Usamah Al-Sayyid Al-Azhari, Menag Nasaruddin juga menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto dan apresiasi kepada Presiden Abdel Fattah El-Sisi atas dukungan penyelenggaraan konferensi. Ia didampingi oleh Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M Hanafi dan Tenaga Ahli Menag Bunyamin Yafid. Menag membedah makna tanggung jawab manusia dalam perspektif Islam, yang bukan sekadar mencari nafkah, melainkan berdimensi moral, amanah sosial, dan kesadaran untuk memakmurkan bumi. “Dalam kerangka inilah, kami menegaskan pentingnya apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni cara pandang yang memahami hubungan antara manusia dan lingkungan berdasarkan prinsip amanah dan tanggung jawab etis,” tegas Menag.
Menurutnya, bumi adalah titipan Ilahi, sehingga memakmurkannya menuntut penjagaan keseimbangan. Setiap profesi yang mengganggu keseimbangan tersebut dianggap menyimpang dari tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban. Menag menyambut baik gagasan Menteri Wakaf Mesir tentang pembangunan peradaban sebagai kewajiban Islam, dan sependapat dengan pemikir Aljazair, Malik bin Nabi, bahwa peradaban adalah bangunan kemanusiaan dan moral yang utuh, yang didasari oleh dorongan spiritual. Menghadapi era kecerdasan buatan, Menag menekankan bahwa tantangan utama bukan pada kemajuan algoritma, melainkan pada penjagaan sisi kemanusiaan. “Dunia tidak hanya membutuhkan profesi yang cerdas, melainkan profesi yang beretika. Tidak hanya membutuhkan kompetensi teknis, tetapi juga nurani yang hidup,” ujarnya. Dalam konteks ini, peran agama adalah menjadi kompas moral bagi kemajuan, penjamin martabat manusia, serta penjaga makna kerja di tengah dunia yang bergerak cepat. Menag juga memaparkan upaya Indonesia dalam mengaitkan pendidikan keagamaan dengan nilai profesionalisme dan etika kerja, serta menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan nurani keagamaan, ijtihad manusia, dan rujukan etika. AI harus tetap berfungsi sebagai alat bantu, bukan sumber mandiri untuk fatwa atau bimbingan keagamaan. “Dunia kita hari ini tidak kekurangan para ahli, tetapi kekurangan nilai-nilai yang menuntun keahlian itu,” pungkas Menag, menyerukan pentingnya akhlak kokoh dan tanggung jawab peradaban.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
Muhammad Ichsan Laidi
. Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.