Kesehatan Mental Anak Berawal dari Ibu yang Berdaya Secara Ekonomi
Jakarta – Kesehatan mental anak tidak selalu bermula dari sekolah, pergaulan, atau media sosial. Seringkali, akar masalah justru berasal dari hal yang paling dekat dan luput dari perhatian, yaitu suasana di dalam rumah.
Seorang anak mungkin tidak mengerti istilah inflasi atau biaya hidup yang mahal. Namun, mereka sangat peka terhadap perubahan nada suara orang tua. Mereka bisa merasakan kecemasan yang tersembunyi di balik percakapan orang dewasa dan melihat kelelahan yang tidak terucapkan. Bahkan tanpa sepatah kata pun, anak-anak sering menjadi pihak pertama yang merasakan dampak dari tekanan yang ada di sekelilingnya.
Oleh karena itu, pembahasan mengenai kesehatan mental anak tidak bisa berhenti pada aspek psikologi semata. Ada dimensi lain yang berjalan diam-diam di belakangnya, yaitu ketahanan ekonomi keluarga. Tekanan ekonomi yang berlangsung terus-menerus dapat menggerogoti kualitas hubungan dalam keluarga, mengubah cara orang tua mengasuh anak, dan menciptakan suasana emosional yang tidak sehat di rumah.
Ketika kondisi ekonomi sulit, perhatian orang tua otomatis tersita untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pikiran tentang biaya sekolah, cicilan, dan kebutuhan pangan menjadi sumber tekanan yang berat. Akibatnya, ruang percakapan di rumah menyempit. Orang tua menjadi lebih mudah lelah dan cemas, sehingga tanpa sadar mereka menjadi kurang hadir secara emosional bagi anak-anaknya.
Padahal, bagi seorang anak, kehadiran emosional orang tua sama pentingnya dengan makanan dan pakaian. Mereka butuh tempat bercerita, didampingi saat gagal, dan merasa yakin bahwa ada yang mendengarkan tanpa menghakimi. Kebutuhan ini semakin krusial saat anak memasuki masa remaja, terutama di masa transisi dari SD ke SMP atau SMP ke SMA. Di fase yang penuh perubahan ini, anak membutuhkan rumah sebagai tempat paling aman untuk kembali.
Analisis: Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya menjaga kesehatan mental anak tidak bisa dipisahkan dari upaya memberdayakan perempuan. Sebagai pihak yang sering menjadi penanggung jawab utama urusan rumah tangga, tekanan ekonomi yang dialami seorang ibu secara langsung memengaruhi kualitas pengasuhan. Ketika seorang perempuan berdaya secara ekonomi, ia tidak hanya mampu menopang keuangan keluarga, tetapi juga memiliki ruang berpikir yang lebih tenang. Hal ini memungkinkannya untuk hadir secara utuh, mendampingi anak dengan penuh kesabaran, serta menciptakan rumah yang benar-benar menjadi tempat aman secara emosional. Dengan kata lain, investasi pada pemberdayaan ekonomi perempuan adalah investasi pada fondasi kesehatan mental generasi penerus bangsa.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.