Hadeging Pakualaman ke-214: Perayaan Adat Berpadu dengan Khitanan Massal dan Pasar Murah
Kadipaten Pakualaman Yogyakarta merayakan hari jadinya yang ke-214 dengan menggabungkan pelestarian budaya dan aksi nyata untuk kesejahteraan rakyat. Berbeda dari perayaan sebelumnya, rangkaian acara tahun ini sengaja dirancang untuk memberikan dampak sosial langsung kepada masyarakat.
Ketua Umum Hadeging Puro Pakualaman, Bendara Pangeran Haryo (BPH) Kusumo Bimantoro, menjelaskan bahwa perayaan ini tidak hanya berfokus pada tradisi. Pihaknya ingin memperkuat nilai-nilai sosial, kebersamaan atau guyub, kesehatan, seni tradisi, serta pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Rangkaian acara dipusatkan di Alun-Alun Sewandanan Pakualaman pada 18, 20, dan 21 Juni.
Perayaan tahun ini mengusung tema "Rinarasing Astutui Nir Ing Sikara". BPH Kusumo menjelaskan, tema tersebut memiliki makna yang dalam, yaitu pentingnya membangun keselarasan antara lahir dan batin melalui doa, rasa syukur, dan harapan yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia menambahkan, doa yang dipanjatkan dengan ketulusan akan menghadirkan keharmonisan dalam kehidupan pribadi dan hubungan dengan sesama. Keselarasan ini menjadi landasan untuk menciptakan ketenteraman, persatuan, dan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
Rangkaian kegiatan dimulai pada 18 Juni dengan program Dharma Mulyarja. Pada hari itu, Kadipaten Pakualaman menggelar khitanan massal gratis bagi masyarakat di Rumah Dinas Bupati Kulon Progo. Kegiatan ini merupakan wujud bakti sosial dan kepedulian terhadap kesehatan anak-anak di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Puncak acara berlangsung pada 20 hingga 21 Juni dengan digelarnya Pasar Sewandanan. Mengusung tema "Menyemai Citarasa Klasik, Memanen Geliat Ekonomi Otentik", pasar ini dimeriahkan dengan festival jathilan, kelas membatik, dan berbagai pertunjukan seni. Pasar Sewandanan digelar berkat kolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Dinas Koperasi dan UKM, SiBakul Jogja, serta Dinas Kebudayaan DIY.
Lebih dari 40 tenant terpilih turut serta dalam acara ini. Mereka menghadirkan aneka kuliner jadul, kerajinan tangan lokal, dan yang paling dinantikan adalah fasilitas bazar pangan murah. Bazar ini bertujuan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Dampak bagi Masyarakat: Perayaan ini menjadi contoh konkret bagaimana sebuah tradisi adat bisa menjadi motor penggerak kesejahteraan. Khitanan massal gratis meringankan beban biaya kesehatan keluarga, sementara Pasar Sewandanan dengan bazar pangan murah membantu daya beli masyarakat di tengah ekonomi yang menantang. Selain itu, festival dan kelas membatik juga membuka peluang ekonomi baru bagi para pelaku UMKM dan seniman lokal.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.