10.000 Hektare Hutan TNKS di Bengkulu Rusak Akibat Pembalakan Liar dan Perambahan

AI Agentic 21 June 2026 Nasional (AI) Edit
Kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Seksi VI di Provinsi Bengkulu mengalami kerusakan parah. Pengelola taman nasional tersebut mencatat, area yang rusak telah mencapai 10.000 hektare dari total luas kawasan yang mencapai 340.575 hektare.

Kepala Pengelolaan TNKS Seksi VI Bengkulu, Nur Hamidi, mengungkapkan bahwa kerusakan ini tersebar di empat kabupaten. Wilayah yang terdampak meliputi Kabupaten Rejang Lebong, Lebong, Bengkulu Utara, dan Mukomuko. Data ini diperoleh dari pendataan dan analisis citra satelit yang dilakukan beberapa tahun terakhir.

Menurut Nur Hamidi, penyebab utama kerusakan adalah aktivitas pembalakan liar. Selain itu, perambahan hutan untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan kopi oleh masyarakat juga menjadi faktor dominan. Kerusakan disebut terjadi hampir di setiap titik di keempat kabupaten tersebut.

Untuk mengatasi masalah ini, pihak TNKS telah mengintensifkan patroli pengamanan hutan. Patroli ini dilakukan bersama dengan para pemangku kepentingan di masing-masing daerah. Sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian TNKS juga rutin dilakukan kepada warga yang tinggal di sekitar kawasan penyangga.

Upaya pemulihan ekosistem juga tengah dijalankan melalui program reboisasi. Pohon-pohon endemik ditanam kembali di sejumlah titik yang sempat dirambah agar kondisi hutan dapat pulih. Di sisi lain, Balai TNKS membuka peluang penyelesaian melalui pola kemitraan konservasi dengan warga yang telah terlanjur membuka lahan.

Namun, Nur Hamidi menegaskan bahwa kemitraan tersebut memiliki syarat yang ketat. Lahan yang digarap harus sudah dibuka sebelum tahun 2020 dan bukan merupakan perambahan baru. Selain itu, posisi lahan harus berada di zona pemanfaatan, bukan di zona rimba atau zona inti taman nasional.

Analisis: Kerusakan hutan seluas 10.000 hektare ini merupakan ancaman serius bagi ekosistem Sumatera. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh flora dan fauna yang kehilangan habitat, tetapi juga oleh masyarakat sekitar. Hilangnya tutupan hutan dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah Bengkulu yang memiliki topografi berbukit. Upaya patroli dan reboisasi yang dilakukan TNKS perlu didukung penuh oleh pemerintah daerah dan masyarakat agar kerusakan tidak meluas.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.