Jakarta Punya 5.910 Petani Kota, Kemendagri Puji Gerakan Urban Farming
Kementerian Dalam Negeri memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang terus mendorong inovasi pertanian perkotaan atau urban farming sebagai solusi ketahanan pangan di tengah keterbatasan lahan. Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Akmal Malik, menyampaikan bahwa urban farming bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, melainkan sebuah gerakan sosial yang membangun kesadaran masyarakat akan kemandirian pangan dan kelestarian lingkungan.
Dalam sambutannya yang dibacakan pada Rapat Paripurna HUT ke-499 Kota Jakarta di gedung DPRD DKI, Akmal menjelaskan bahwa keterbatasan ruang di perkotaan tidak lagi menjadi penghalang untuk menghasilkan pangan yang sehat. Pemanfaatan pekarangan rumah, taman lingkungan, atap bangunan, hingga teknologi hidroponik dan vertikultur dinilai mampu mengubah lahan sempit menjadi sumber pangan berkualitas.
Akmal menambahkan, upaya ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan keluarga, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan menciptakan ruang hijau yang mendukung kualitas lingkungan perkotaan. Hal ini sejalan dengan prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto yang menjadikan ketahanan pangan sebagai gerakan bersama, melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat.
Dari sisi data, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan DKI Jakarta mencatat bahwa pada tahun 2025 terdapat 5.910 pelaku urban farming yang tergabung dalam 521 kelompok tani. Pemprov DKI telah menyediakan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari sarana produksi, pendampingan teknis oleh tenaga penyuluh, edukasi, pelatihan, hingga kolaborasi dengan swasta, BUMN, BUMD, TNI, Polri, lembaga pemasyarakatan, dan lembaga keagamaan.
Kebijakan ini juga diperkuat dengan adanya peta jalan pengembangan pertanian perkotaan melalui Desain Besar Pertanian Perkotaan 2018-2030. Program tersebut bertujuan memenuhi kebutuhan pangan keluarga, mengurangi pengeluaran rumah tangga, menambah pendapatan, menyerap tenaga kerja, mengendalikan inflasi, serta menjaga kelestarian lingkungan dan tanaman asli Jakarta.
Analisis: Langkah Pemprov DKI ini dinilai strategis dalam menghadapi tantangan urbanisasi dan keterbatasan lahan. Dengan melibatkan ribuan warga, urban farming tidak hanya menjadi solusi pangan jangka pendek, tetapi juga membangun ekosistem kota yang lebih hijau dan mandiri. Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi pendampingan dan perluasan akses teknologi bagi para pelaku pertanian kota.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.