Libur Sekolah, Dapur Makan Bergizi Gratis di Lombok Tengah Tutup Sementara
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menyatakan dukungan penuh terhadap keputusan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menutup sementara dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah tahun ajaran 2026. Langkah ini dianggap sebagai strategi yang tepat untuk melakukan efisiensi anggaran sekaligus evaluasi kualitas program.
Asisten II Setda Lombok Tengah, Lalu Rinjani, menjelaskan bahwa kebijakan penutupan sementara sangat bagus untuk memastikan program berjalan lebih baik ke depannya. Dengan adanya libur sekolah, masyarakat tidak perlu lagi datang ke sekolah hanya untuk mengambil menu MBG. Penyaluran program di wilayah Lombok Tengah tetap mengacu pada regulasi yang ditetapkan oleh BGN.
Selama masa penutupan, tim satuan tugas MBG di Lombok Tengah tidak tinggal diam. Mereka tetap melakukan monitoring dan evaluasi, terutama jika ada laporan dari masyarakat terkait pelaksanaan program. Lalu Rinjani menegaskan, jika ditemukan dapur MBG yang tidak sesuai dengan regulasi, pihaknya akan merekomendasikan suspend atau penutupan secara permanen.
Lebih lanjut, ia menekankan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tetap memberdayakan masyarakat lokal dan potensi desa setempat. Hal ini penting agar program MBG tidak hanya berdampak pada gizi penerima, tetapi juga mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. "Pemberdayaan masyarakat setempat harus tetap menjadi prioritas," ujarnya.
Saat ini, dari total 192 SPPG yang tersebar di 12 kecamatan di Lombok Tengah, sebanyak 175 titik sudah beroperasi. Masih ada 17 titik yang belum beroperasi. Program MBG di daerah ini telah menjangkau total 444 ribu penerima manfaat, yang terdiri dari pelajar serta ibu hamil dan menyusui.
Analisis: Kebijakan penutupan sementara ini memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk melakukan audit dan perbaikan tanpa tekanan operasional harian. Dampak positif bagi masyarakat adalah terjaminnya kualitas makanan yang akan diterima anak-anak sekolah setelah liburan usai. Namun, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa 17 dapur yang belum beroperasi segera aktif agar seluruh penerima manfaat dapat terlayani secara merata. Fokus pada pemberdayaan tenaga lokal juga menjadi kunci agar program ini berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi ganda bagi warga sekitar.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.