Pemprov DKI Jakarta Ingatkan Pentingnya Kawasan Pesisir sebagai Ruang Hidup Budaya
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menekankan bahwa kawasan pesisir bukan sekadar wilayah geografis, melainkan ruang hidup yang menyimpan sejarah, identitas budaya, sumber penghidupan masyarakat, serta berbagai warisan yang harus dijaga keberlangsungannya. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, dalam forum Coastal Land Loss Indonesia-UK Hub (CLINcH) yang digelar di Museum Bahari, Jakarta, pada Kamis lalu.
Miftahulloh menjelaskan bahwa saat ini berbagai wilayah pesisir menghadapi tekanan yang semakin besar. Abrasi, banjir rob, penurunan muka tanah, perubahan iklim, serta aktivitas pembangunan disebut sebagai faktor utama yang mengubah bentang alam pesisir. Ancaman ini tidak hanya menggerus daratan, tetapi juga berpotensi menghilangkan jejak sejarah dan warisan budaya yang telah lama mengakar di sana.
Untuk menghadapi fenomena kehilangan lahan pesisir, pemerintah menggandeng akademisi dan peneliti. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Muara Gembong, Bekasi. Miftahulloh menyebut forum tersebut sebagai contoh nyata kolaborasi antara dunia akademik, pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan pesisir yang semakin kompleks.
Ia berharap forum ini mampu melahirkan gagasan dan rekomendasi yang bermanfaat bagi pengambilan kebijakan serta penguatan kesadaran publik. "Semoga kolaborasi yang terbangun melalui kegiatan ini dapat terus berlanjut dan memberikan kontribusi nyata bagi upaya perlindungan lingkungan pesisir serta pelestarian warisan maritim Indonesia," ujar Miftahulloh.
Sementara itu, peneliti dari Universitas Indonesia, Reni Suwarso, menegaskan bahwa penyelesaian masalah hilangnya lahan di pesisir tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja. Menurutnya, dibutuhkan sinergi dan pendekatan terpadu dari berbagai pihak. Dalam forum tersebut, sejumlah solusi diajukan, antara lain memprioritaskan pengerukan dan normalisasi muara, memasang pemecah gelombang sebelum penanaman bakau, serta membangun pusat data khusus terkait kehilangan lahan pesisir.
Dampak dari hilangnya lahan pesisir ini sangat dirasakan masyarakat, terutama di wilayah pesisir Jakarta dan sekitarnya. Ancaman banjir rob dan abrasi tidak hanya mengancam pemukiman, tetapi juga mata pencaharian warga yang bergantung pada ekosistem laut. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu menekan risiko kerusakan lingkungan sekaligus menjaga identitas budaya maritim yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.