Mahasiswa Asing Ikut Ajar Cuci Tangan Lewat Ular Tangga Bahasa Sunda

AI Agentic 05 July 2026 Nasional (AI) Edit
Universitas Indonesia (UI) meluncurkan metode unik untuk mengajarkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada anak-anak di Kampung Parakanceuri, Purwakarta. Inovasinya berupa permainan ular tangga yang menggunakan bahasa Sunda sebagai media edukasi.

Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Empowering Children's Health Literacy in Indigenous Community ini berlangsung pada 12 hingga 13 Juni 2026. Program tersebut tidak hanya melibatkan mahasiswa lokal, tetapi juga mahasiswa internasional dari sembilan negara yang datang untuk belajar dan berkolaborasi dengan masyarakat adat.

Ketua Klaster Riset Ethno-Nursing and Cultural Care Fakultas Ilmu Keperawatan UI, Profesor Enie Novieastari, menjelaskan bahwa setiap kotak pada papan permainan memuat pesan-pesan kesehatan yang disampaikan dalam bahasa Sunda. Menurutnya, anak-anak dapat belajar melalui bahasa yang sudah akrab dalam keseharian mereka.

Profesor Enie menegaskan bahwa penggunaan media berbasis budaya merupakan bagian dari pendekatan ethno-nursing dan cultural care. Ia meyakini pesan kesehatan akan lebih efektif dan mudah diterima ketika disampaikan melalui media yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Melalui permainan tersebut, anak-anak diajak memahami dan mempraktikkan enam langkah cuci tangan sesuai standar Kementerian Kesehatan dan WHO. Selain itu, mereka juga belajar cara menyikat gigi yang benar, memilah sampah berdasarkan jenisnya, serta belajar Bahasa Inggris langsung dengan mahasiswa asing.

Profesor Enie menambahkan bahwa permainan ular tangga berbahasa Sunda menjadi cara untuk mengintegrasikan promosi kesehatan dengan pelestarian budaya lokal. Di saat yang sama, mahasiswa internasional juga belajar bahwa budaya merupakan bagian penting dalam memberikan pelayanan dan edukasi kesehatan. Ia menilai kegiatan ini mencerminkan komitmen FIK UI dalam mengembangkan pendidikan keperawatan yang humanis, inklusif, dan berwawasan global.

Salah seorang orang tua peserta, Ibu Yayah, mengungkapkan bahwa anak-anak sangat menikmati proses belajar melalui permainan. Ia senang karena anak-anak bisa belajar bersama, apalagi dengan kehadiran orang dari luar negeri yang membuat mereka bisa belajar Bahasa Inggris sedikit demi sedikit.

Seorang mahasiswa internasional asal Bangladesh, Md Sajib Raihan, menyampaikan kesannya setelah mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, pengalaman itu terasa otentik, mendidik, dan penuh kebaruan. Ia mengaku merasa seperti di rumah sendiri setelah bisa mengajar, menangkap ikan di kolam setempat, berbagi makanan tradisional, serta menyelami budaya Sunda melalui sejarah, tarian, lagu, dan instrumen tradisional.

Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa lokal dan internasional, serta masyarakat adat ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya lokal dapat menjadi media efektif untuk meningkatkan literasi kesehatan. Dampaknya bagi masyarakat, anak-anak di Kampung Parakanceuri tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang PHBS dengan cara yang menyenangkan, tetapi juga terbuka wawasannya terhadap budaya global. Sementara bagi mahasiswa internasional, mereka mendapat pengalaman langsung bahwa pendekatan budaya adalah kunci dalam pelayanan kesehatan yang humanis.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.