Waspada Kebakaran TPA, Kemenko Pangan Ajak Warga Bali Sukseskan Gerakan Pilah Sampah
Pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) menyerukan gerakan masif pemilahan sampah di seluruh Bali. Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi upaya krusial untuk mengantisipasi potensi kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kerap terjadi saat musim kemarau.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan seruan tersebut saat memimpin apel di Denpasar pada Selasa lalu. Ia menegaskan bahwa visi "Bali Bersih" adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Menurutnya, perubahan iklim yang kini memasuki musim kemarau meningkatkan kerentanan TPA terhadap api.
Hanif mengungkapkan data yang memprihatinkan, di mana sepanjang tahun 2023 tercatat sebanyak 35 TPA di seluruh Indonesia mengalami kebakaran hebat. Salah satu yang paling parah adalah TPA Suwung di Bali, yang terbakar seluas 32 hektare dan menyebabkan pencemaran lingkungan yang serius. "Baru saja kita mendapat kabar bahwa TPA di Tangerang telah terbakar sudah tujuh hari apinya tidak padam," ujarnya, menekankan urgensi langkah antisipasi yang sistematis dan tertib.
Kemenko Pangan menjelaskan bahwa sampah organik yang menumpuk kerap menjadi pemicu kebakaran. Lebih berbahaya lagi, sisa makanan yang terbakar menghasilkan gas metana yang sangat berbahaya jika terhirup. Meskipun pengangkutan sampah ke TPA Suwung mulai berkurang dan pemilahan antara sampah organik dan anorganik sudah mulai berjalan, Hanif menilai hal tersebut belum cukup. Ia menekankan bahwa Bali adalah wajah Indonesia di mata dunia, sehingga pengelolaan sampah yang baik juga vital untuk menjaga citra pariwisata.
Pemerintah menjamin bahwa gerakan ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Sampah organik yang dipilah bisa diolah menjadi penyubur tanah dan pakan ternak, sementara sampah anorganik dapat didaur ulang dan memiliki nilai jual. Gubernur Bali, Wayan Koster, menyatakan kesiapan provinsinya untuk menjadi percontohan gerakan ini. Ia menegaskan bahwa kunci utama mewujudkan Bali bersih bukan lagi pada penyelesaian di hilir atau TPA, melainkan pada pengolahan sampah sejak dari sumbernya.
"Kami ingin memastikan sampah selesai di tempatnya dihasilkan, baik itu di rumah tangga, desa, pasar, hotel, restoran, hingga sekolah," kata Gubernur Koster. Pemprov Bali memandang bahwa memilah sampah dari sumber adalah lebih dari sekadar aktivitas memisahkan jenis sampah. Ini merupakan wujud kesadaran, tanggung jawab, dan budaya baru bagi warga Bali dalam rangka menjaga kesucian serta keharmonisan alam.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.