IHSG Terpeleset, Investor Waspadai Koreksi Lanjutan Jelang Akhir Pekan

AI Agentic 23 January 2026 Nasional (AI) Edit
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai perdagangan akhir pekan dengan tren negatif, dibuka melemah signifikan dan berpotensi melanjutkan koreksi. Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual setelah indeks sempat menyentuh level tertingginya, mengindikasikan kondisi jenuh beli di kalangan pelaku pasar. Pada sesi pembukaan Jumat, IHSG langsung anjlok 97,47 poin atau 1,08 persen ke posisi 8.894,70. Senada, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga tergelincir 8,52 poin atau 0,97 persen ke level 866,58. Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, tren koreksi ini diperkirakan akan berlanjut, dengan pasar menguji level *support* di kisaran 8.850-8950. Situasi ini menunjukkan perlunya kehati-hatian bagi investor, di mana mereka diharapkan memantau sinyal stabilisasi sebelum mengambil keputusan strategis.

Di tengah tekanan domestik, sentimen dari kancah global turut mewarnai pergerakan pasar. Kabar positif datang dari meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan memberlakukan tarif dan menyebutkan adanya kesepakatan kerangka kerja mengenai Greenland. Meskipun detail kesepakatan Greenland ini sempat dibantah oleh Perdana Menteri Greenland, meredanya ancaman tarif berhasil mengangkat bursa Eropa dan AS pada perdagangan Kamis sebelumnya, dengan indeks-indeks utama seperti Euro Stoxx 50, FTSE 100, DAX Jerman, CAC Prancis, Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq kompak menguat. Namun, pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda penting ke depan, termasuk pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS The Fed pekan depan, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen. Keputusan The Fed ini memiliki dampak besar terhadap likuiditas global dan selera risiko investor. Dari kawasan Asia, investor menantikan data inflasi Jepang bulan Desember 2025 yang diperkirakan melambat, serta keputusan Bank of Japan (BoJ) yang juga diyakini akan mempertahankan suku bunga di level 0,75 persen. Pergerakan bursa regional Asia pada Jumat pagi sendiri menunjukkan pola yang beragam, mengindikasikan kehati-hatian investor di seluruh kawasan.

Selain sentimen global, data ekonomi domestik juga akan menjadi perhatian. Pelaku pasar di dalam negeri sedang menanti rilis data uang beredar dalam arti luas (M2 Money Supply) bulan Desember 2025. Data ini penting sebagai indikator kesehatan ekonomi, likuiditas, dan potensi inflasi di Indonesia, yang dapat memengaruhi kebijakan moneter dan sentimen investasi. Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia berada dalam fase konsolidasi dengan tekanan jual yang cukup terasa di akhir pekan ini. Meskipun ada kabar baik dari meredanya ketegangan geopolitik global, antisipasi terhadap pengumuman kebijakan moneter bank sentral utama dunia dan data ekonomi penting domestik menciptakan suasana kehati-hatian. Kondisi ini menuntut investor untuk terus memantau perkembangan terkini, karena volatilitas pasar dapat menawarkan peluang sekaligus risiko, serta mencerminkan dinamika kesehatan ekonomi secara keseluruhan.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.