Angin Kencang dan Minim Air Jadi Momok Pemadaman Karhutla di Pulang Pisau
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, mengungkapkan bahwa pergerakan angin yang kencang serta keterbatasan sumber air menjadi dua kendala utama dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Tumbang Nusa.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Pulang Pisau, Herman Wibowo, menyampaikan bahwa kondisi di lapangan masih menunjukkan adanya beberapa titik api yang justru membesar. Hal ini dipicu oleh embusan angin yang tidak hanya mempercepat penyebaran api, tetapi juga memunculkan titik-titik api baru di sejumlah lokasi.
Seluruh personel satuan tugas (satgas) yang diterjunkan ke lapangan terus bekerja keras melakukan pengendalian, pemadaman, dan pembasahan di berbagai titik kebakaran. Situasi semakin rumit karena cuaca panas yang ekstrem membuat lahan kering mudah terbakar, sementara api juga mulai merambat mendekati badan jalan.
Dalam upaya menahan laju api agar tidak melintasi jalan, armada pemadam milik Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau dikerahkan bersama dengan personel TNI dan Polri. Herman menegaskan bahwa sinergi antarinstansi ini menjadi kunci utama dalam menghalau pergerakan api di pinggir jalan sehingga risiko api meloncat ke sisi jalan lainnya dapat dicegah.
Penanganan karhutla ini juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui BPBD Provinsi dan Dinas Kehutanan Provinsi. Bantuan berupa mobil tangki air dan mobil pemadam kebakaran telah dikirimkan untuk memperkuat operasi di lapangan.
Terkait luas lahan yang terbakar, Herman menyebut angkanya masih fluktuatif dan terus berubah. Berdasarkan data lapangan yang dihimpun sekitar tiga hari lalu, area yang terdampak diperkirakan telah mencapai 122 hektare. Namun, angka tersebut berpotensi bertambah seiring dengan pergerakan api yang dinamis dan hasil pemantauan terbaru.
Situasi semakin mengkhawatirkan karena pergerakan api saat ini mulai mengarah ke Desa Taruna. Sebagai langkah antisipasi, BPBD mengoptimalkan pembangunan sekat kanal dengan mengerahkan tiga unit ekskavator untuk memperdalam kanal. Langkah ini bertujuan agar kanal mampu menampung lebih banyak air guna memperkuat pembasahan lahan dan menghentikan laju api menuju permukiman warga.
Herman berharap operasi modifikasi cuaca atau teknologi hujan buatan dapat segera dilakukan. Namun, ia mengakui pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi cuaca karena hingga saat ini belum terdapat titik kumpul awan yang memadai di wilayah karhutla. Ia menjelaskan bahwa jika hujan buatan dipaksakan saat belum ada kumpulan awan, dampaknya justru tidak efektif dan hujan bisa turun di daerah lain.
Pihaknya terus berkoordinasi secara intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memantau perkembangan titik kumpul awan. Jika kondisi atmosfer sudah mendukung, operasi modifikasi cuaca akan segera dilaksanakan untuk mempercepat proses pemadaman.
Karhutla di wilayah ini menjadi perhatian serius karena dampaknya tidak hanya mengancam ekosistem dan kesehatan masyarakat akibat kabut asap, tetapi juga mengganggu aktivitas transportasi dan ekonomi warga setempat. Kehadiran sekat kanal dan dukungan peralatan dari berbagai pihak diharapkan mampu memutus rantai penyebaran api sebelum semakin meluas.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.