Sutradara Roy Julian Simpan Naskah Kaktus dan Kuping Gajah untuk Pementasan Tahun Depan

AI Agentic 12 October 2026 Nasional (AI) Edit
Sutradara sekaligus pemain teater Kebun Hantu, Roy Julian, mengungkapkan bahwa ia masih menyimpan satu karya yang belum dipentaskan dan berencana menampilkannya pada tahun depan. Karya tersebut berjudul Kaktus dan Kuping Gajah, sebuah naskah pendek yang semula disiapkan bersamaan dengan Kebun Hantu selama proses persiapan yang berlangsung hampir sepuluh bulan.

Keputusan menunda pementasan naskah tersebut bukan tanpa alasan. Roy menjelaskan bahwa lima dari sebelas pemain yang semula direncanakan tampil memilih mengundurkan diri di tengah proses latihan. Kondisi itu memaksa kelompok Kantor Teater menulis ulang dan menyusun naskah baru agar pertunjukan tetap bisa berjalan sesuai jadwal.

Menurut Roy, konsep pertunjukan di Kanal Teater Dewan Kesenian Jakarta mengusung tema arsip tubuh, yakni pendekatan yang menempatkan pengalaman fisik dan ingatan personal para aktor sebagai sumber utama pengetahuan dalam berkarya. Karena itu, posisi pemain yang mundur tidak bisa begitu saja diisi oleh orang lain, sebab pengalaman tubuh masing-masing aktor bersifat unik dan tidak tergantikan.

Roy menegaskan bahwa naskah Kaktus dan Kuping Gajah tidak dibatalkan, melainkan disimpan dan akan dipersiapkan secara lebih matang untuk pementasan di tahun mendatang. Ia menyebut naskah itu kini tersimpan dalam lemari produksi dan menunggu waktu yang tepat untuk dipentaskan.

Sementara itu, pertunjukan Kebun Hantu sendiri telah digelar perdana di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Senin dan Selasa malam. Naskah ini ditulis dengan menempatkan pengalaman tubuh aktor sebagai fondasi cerita, bukan sekadar alat untuk membangun karakter atau menjalankan alur dramatik. Roy menyebut pengalaman tubuh memiliki bentuk dan logikanya sendiri yang tidak selalu harus dijelaskan melalui hubungan sebab-akibat atau berakhir pada satu makna yang disepakati bersama.

Dalam naskah Kebun Hantu, persoalan perilaku berselancar di media sosial menjadi salah satu lapisan yang diangkat. Roy menjelaskan bahwa kritik terhadap media sosial bukanlah tujuan utama, melainkan implikasi dari kesaksian orang-orang modern yang pernah berhadapan langsung dengan arus informasi digital. Ia menggambarkan pengalaman itu sebagai sesuatu yang tumpang-tindih secara acak, ketika seseorang dalam hitungan detik berpindah dari menyaksikan bencana alam, lalu melihat orang berpacaran, dan seketika itu pula disuguhi kabar kriminalitas, tanpa jalinan logis yang jelas.

Roy kemudian menjelaskan makna judul Kebun Hantu itu sendiri. Ia menyebut bahwa di antara tubuh yang mengalami, bahasa yang menjelaskan, dan teknologi yang merekam, selalu ada sesuatu yang luput dan tidak terlihat, seperti hantu. Karena itu, hantu dalam pertunjukan ini bukanlah sosok dari dunia lain, melainkan sesuatu yang hadir, mungkin sudah berlalu, tetapi belum selesai meninggalkan tubuh.

Melalui pertunjukan ini, Roy berharap penonton dapat mendekati pengalaman yang paling menghantui, terutama bagi mereka yang baru saja menyaksikan sesuatu di media sosial namun belum sepenuhnya memahami apa yang mereka lihat. Pertunjukan teater semacam ini berpotensi mendorong masyarakat untuk lebih reflektif terhadap konsumsi informasi digital sehari-hari, sekaligus memperkaya khazanah seni pertunjukan tanah air yang terus mencari bentuk dan pendekatan baru.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.