COP31 Digelar di Antalya, Turkiye, Dunia Dorong Aksi Nyata Hadapi Perubahan Iklim

AI Agentic 08 November 2026 Nasional (AI) Edit
Konferensi Para Pihak ke-31 Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau COP31 resmi dimulai pada Senin, 9 November, di kota wisata Antalya, pesisir Mediterania, Turkiye. Forum tahunan ini akan mempertemukan para kepala negara, pejabat senior, akademisi, dan perwakilan masyarakat sipil dari berbagai negara untuk mengevaluasi kemajuan penanganan perubahan iklim sekaligus mengambil keputusan yang membentuk kebijakan iklim global.

Konferensi yang pertama kali diselenggarakan di Berlin pada 1995 ini berlangsung pada 9 hingga 20 November dengan Turkiye sebagai tuan rumah. Mengusung tema COP Masa Depan dan COP Implementasi, pertemuan ini dibangun di atas tiga pilar utama, yakni dialog, konsensus, dan aksi. Tujuannya memperkuat kepercayaan serta kerja sama antarnegara, mendorong tanggung jawab bersama, dan menerjemahkan komitmen iklim menjadi tindakan nyata yang terukur.

Lokasi penyelenggaraan COP31 disiapkan di atas lahan seluas 1,1 juta meter persegi yang terbagi ke dalam dua kawasan utama, yakni Zona Biru dan Zona Hijau. Zona Biru menjadi pusat negosiasi resmi berdasarkan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, pertemuan tingkat tinggi, dan pembicaraan diplomatik dengan akses yang dikendalikan sesuai aturan akreditasi PBB. Kawasan ini juga menjadi lokasi berbagai kegiatan pendamping, mulai dari diskusi panel soal adaptasi perubahan iklim, energi bersih, nol sampah, kota berkelanjutan, pendanaan iklim, teknologi, kesehatan, hingga transformasi hijau. Di dalamnya terdapat ruang sidang pleno, kantor delegasi, paviliun, pusat pers dan media, serta restoran. Sebuah bangunan berbentuk lima kelopak bernama Terowongan Waktu seluas 10.000 meter persegi akan difungsikan sebagai Museum Nol Sampah.

Sementara itu, Zona Hijau dirancang untuk mendorong partisipasi masyarakat. Kawasan ini menghadirkan berbagai pusat kegiatan tematik yang memungkinkan lembaga pemerintah, pelaku usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan generasi muda berbagi solusi, teknologi, serta praktik terbaik terkait iklim melalui pameran, konser, diskusi panel, lokakarya, dan kegiatan interaktif. Fasilitas yang tersedia mencakup Paviliun Turkiye, Pusat Sains, Industrialisasi Hijau, Kota Tangguh, Energi dan Transportasi, Budaya dan Peradaban, COPArt, serta Zona Perusahaan Rintisan. Sebagai bagian dari Gerakan Nol Sampah yang telah berkembang secara global, lokasi COP31 dilengkapi Pusat Nol Sampah, Pusat Praktik dan Lokakarya Nol Sampah, Dapur Nol Sampah Tujuh Wilayah Tujuh Rumah, Museum Nol Sampah, serta Pusat Penyimpanan Sementara dan Pengomposan Nol Sampah. Zona Hijau juga menghadirkan Rumah Antalya yang mencerminkan budaya tradisional masyarakat Yoruk serta paviliun penyu yang dibangun menggunakan bahan-bahan nol sampah.

Nuansa warisan budaya dan sejarah Anatolia kental terasa di seluruh lokasi konferensi. Ruang rapat dan aula diberi nama berdasarkan tempat bersejarah, tokoh, dan unsur budaya Turkiye. Aula pleno terbesar di Zona Biru berkapasitas 1.794 orang dinamai Anadolu dan akan digunakan untuk pertemuan perwakilan negara dan pemerintahan serta negosiasi resmi. Aula pleno lainnya berkapasitas 828 orang dinamai Akdeniz, dan tersedia pula Aula Antalya. Dua ruang konferensi pers masing-masing dinamai berdasarkan ulama sufi sekaligus penyair terkenal dunia, Mevlana Rumi, dan penyair serta tokoh sufi Turki, Yunus Emre. Ruang rapat lain di Zona Biru menggunakan nama Selimiye, Evliya Celebi, Ayder, Gobeklitepe, Topkapi, Kackar, Zeugma, Cappadocia, Bosphorus, Patara, Sumela, Sezai Karakoc, Piri Reis, Harput, Mimar Sinan, Gunung Agri, Danau Van, Troy, Fethiye, Pamukkale, Ephesus, Gallipoli, Ahlat, Uludag, Catalhoyuk, dan Aspendos, sementara lokasi kegiatan pendamping memakai nama Uzungol, Lycia, Assos, Perge, Ahi Evran, Asik Veysel, dan Hattusa. Zona Biru juga menghadirkan Taman Kupu-Kupu Tropis yang menawarkan pengalaman interaktif bagi pengunjung untuk mengenal alam, ekosistem, dan keanekaragaman hayati.

Di Zona Hijau, aula terbesar berkapasitas 5.000 orang diberi nama Aula Gaza. Aula dan ruang rapat lainnya menggunakan nama sejumlah tokoh sejarah dan budaya terkemuka, termasuk Ibnu Sina, peraih Nobel Aziz Sancar, Al-Farabi, Mehmet Akif Ersoy, Haci Bektas Veli, Cacabey, Ahmad Yasawi, Afet Inan, Fatma Aliye, Al-Biruni, dan Osman Hamdi Bey. Taman Anatolia di Zona Hijau menampilkan warisan peradaban kawasan tersebut, mulai dari bangsa Het, Frigia, Lidia, dan Likia hingga periode Romawi, Bizantium, Seljuk, dan Ottoman, dengan penekanan pada nilai keselarasan dengan alam, keramahan, dan kehidupan berkelanjutan. Melalui konsep Tujuh Wilayah, Tujuh Kuliner, COP31 juga memperkenalkan warisan kuliner Anatolia, cita rasa lokal, dan budaya pangan berkelanjutan kepada pengunjung, yang dapat menjelajahi kuliner Mediterania, Gaziantep, Kayseri, Nol Sampah, Dunia Turkik, Konya, dan Laut Hitam.

Dari sisi keamanan dan pelayanan, sebuah pusat manajemen krisis dibentuk di Zona Hijau di bawah koordinasi Kantor Gubernur Antalya. Pusat tersebut melibatkan perwakilan kepolisian provinsi, dinas kesehatan provinsi, Badan Penanggulangan Bencana dan Keadaan Darurat, dinas pemadam kebakaran, Administrasi Air dan Air Limbah Antalya, Pemerintah Kota Aksu, perusahaan distributor listrik AKEDAS, serta perusahaan distributor gas alam ENERYA. Lima pos kesehatan beroperasi di seluruh lokasi konferensi, terdiri atas tiga pos di Zona Biru dan dua pos di Zona Hijau. Tujuh ambulans operasional dan dua ambulans cadangan disiagakan, diperkuat 20 tim bergerak Penyelamatan Medis Nasional yang terdiri atas sembilan tim di Zona Biru dan 11 tim di Zona Hijau. Sebanyak 27.957 personel dari kepolisian, gendarmerie, dan penjaga pantai dikerahkan untuk pengamanan. Untuk menunjang transportasi, 630 bus rendah emisi dan ramah lingkungan yang disediakan oleh 25 pemerintah kota akan melayani para peserta konferensi.

Penyelenggaraan COP31 di Antalya menjadi momentum penting bagi masyarakat global untuk menagih komitmen iklim yang selama ini kerap berhenti di atas kertas. Dengan tema yang menekankan implementasi, publik berharap forum ini tidak sekadar menghasilkan deklarasi, tetapi juga langkah konkret yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari, mulai dari udara yang lebih bersih, pengelolaan sampah yang lebih baik, hingga ekonomi hijau yang membuka lapangan kerja baru. Bagi Indonesia, forum ini menjadi panggung strategis untuk menunjukkan keseriusan dalam menangani isu lingkungan, termasuk kesiapan memaparkan penanganan kebakaran hutan dan lahan serta rencana mengangkat Rancangan Undang-Undang Pengendalian Perubahan Iklim yang berkeadilan.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.