Solusi Radikal Banjir Abadi Karangligar: Dedi Mulyadi Usul Sulap Pemukiman Jadi Danau Penampung Air!
Karawang, Jawa Barat – Desa Karangligar di Kabupaten Karawang seringkali menjadi langganan banjir tahunan yang tak kunjung teratasi. Menanggapi kondisi tersebut, Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, mengajukan sebuah solusi yang cukup radikal dan diyakini permanen: merelokasi seluruh warga serta mengubah area pemukiman padat tersebut menjadi danau penampung air. Usulan ini dilontarkannya di Bandung pada Jumat lalu, mengingat posisi geografis Karangligar yang berada di area cekungan. Menurut KDM, segala upaya teknis dinilai tidak akan membuahkan hasil optimal selama pemukiman tetap berada di titik terendah tersebut. Dengan dijadikannya kawasan itu danau buatan, diharapkan kapasitas "parkir air" di Karawang akan meningkat signifikan, sekaligus mengurangi beban aliran sungai di sekitar sana yang selama ini dikelola Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Sebagai bagian dari rencana relokasi, Dedi mengusulkan pengembangan konsep rumah panggung ekstrem. Ia mencontohkan proyek percontohan sebelumnya berupa 10 unit rumah yang dibangun dengan ketinggian lantai 2,5 meter dari permukaan tanah, namun proyek ini pun tak luput dari rendaman air saat banjir besar melanda Karawang. Oleh karena itu, untuk kasus Karangligar, KDM mengusulkan standar ketinggian yang lebih radikal, yakni lantai dasar rumah harus berjarak 4 meter dari permukaan tanah, guna memastikan hunian tetap kering. Namun, Dedi mengungkapkan adanya kendala besar dalam proses relokasi. Masalah utama bukan pada ketersediaan lahan atau anggaran, melainkan pada inkonsistensi sikap masyarakat terdampak. Ia mengamati bahwa keinginan warga untuk pindah sangat tinggi saat bencana terjadi, namun akan surut seketika begitu air mengering. Fenomena psikologis ini menjadi "problem" yang harus dipecahkan, bahkan Bupati Karawang pun sepakat bahwa relokasi adalah satu-satunya jalan. Dedi menduga, keengganan warga untuk berpindah secara permanen dipicu oleh kondisi fisik bangunan rumah mereka yang saat ini sudah tergolong bagus dan permanen, sehingga sulit untuk ditinggalkan.
Sementara itu, kondisi banjir di Karawang sendiri, sebagaimana dilaporkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, telah merendam ribuan rumah di 26 desa dan 12 kecamatan. Banjir terjadi akibat meluapnya dua sungai besar, yakni Citarum dan Cibeet, yang berdampak pada 3.162 rumah dan sekitar 13.400 jiwa. Melihat skala bencana yang berulang ini, Dedi memastikan bahwa koordinasi dengan pemerintah daerah setempat dan instansi terkait terus diperkuat. Tujuannya adalah agar penanganan banjir di Karawang tidak lagi bersifat darurat tahunan, melainkan menuju penyelesaian tuntas secara struktural dan jangka panjang, demi masa depan warga Karangligar yang lebih aman dari ancaman banjir.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.