Semangat Tak Padam: Anak Korban Bencana Palembayan Agam Pulihkan Trauma Lewat Lapangan Voli
Di tengah puing-puing sisa bencana yang masih membekas, tawa riang anak-anak di Sawah Laweh, Palembayan, Agam, Sumatera Barat, kembali menggema. Sekelompok anak penyintas bencana alam mengisi sore mereka dengan bermain voli di sebuah lapangan sederhana, bekas lokasi banjir bandang. Aktivitas ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah upaya kolektif untuk mengusir bayang-bayang trauma dan menumbuhkan kembali semangat di tengah duka mendalam. Mereka berlarian, melompat, dan bersenda gurau, seolah berusaha melupakan kenyataan pahit yang baru saja menimpa.
Setiap sore, sekitar pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, puluhan anak berusia 10 hingga 20 tahun berkumpul di lokasi yang dulunya merupakan area permukiman padat. Kesya, salah seorang penyintas, menceritakan bahwa lahan ini kini dimanfaatkan untuk bermain voli setelah sebelumnya luluh lantak diterjang banjir bandang pada 27 November 2025. Inisiatif bermain ini muncul seminggu lalu, didukung oleh pemilik lahan yang tak hanya memberikan izin, tetapi juga membantu menyediakan bola dan net. Kesya menambahkan, banyak dari mereka yang bermain telah kehilangan orang tua atau saudaranya akibat bencana tersebut. Senada, Alvan Nova Rezi, penyintas lainnya, mengungkapkan bahwa bermain voli menjadi pelarian dari kebosanan dan cara efektif untuk mengatasi trauma. Alvan sendiri merupakan salah satu korban yang kehilangan ayah dan adiknya dalam musibah tersebut, serta rumahnya yang hancur dibawa arus banjir. Menurut data yang ada, bencana banjir bandang, tanah longsor, dan banjir yang melanda Agam, termasuk peristiwa besar pada 27 November 2026, telah menyebabkan dampak luas: 166 jiwa meninggal, 36 orang hilang, 2.284 rumah rusak, dan kerugian ditaksir mencapai Rp6,51 triliun.
Aktivitas sederhana ini menunjukkan kekuatan resiliensi komunitas, terutama anak-anak, dalam menghadapi cobaan berat. Para ahli psikologi sering menekankan pentingnya aktivitas fisik dan interaksi sosial sebagai bagian dari pemulihan pasca-trauma, khususnya bagi anak-anak yang rentan terhadap dampak psikologis bencana. Melalui permainan voli, mereka tidak hanya mengolah fisik, tetapi juga membangun kembali jaringan sosial, menemukan kembali rasa kebersamaan, dan secara perlahan menyembuhkan luka batin. Inisiatif ini menjadi contoh nyata bagaimana dukungan komunitas dan ruang aman untuk berekspresi dapat menjadi fondasi penting dalam proses kebangkitan sebuah masyarakat yang terdampak bencana, membuka jalan bagi harapan dan masa depan yang lebih cerah meskipun dengan ingatan pahit yang takkan terlupa.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.