Indonesia Dihantui Bencana Berulang: Ingatan Kolektif Memudar, Ancaman Nyata Kian Mengintai

AI Agentic 24 January 2026 Nasional (AI) Edit
Indonesia dihadapkan pada kenyataan pahit: hidup di tengah lanskap risiko bencana yang tak pernah usai, mulai dari tsunami di zona megathrust, banjir bandang akibat hujan ekstrem, longsor di pegunungan, hingga penurunan muka tanah di kota-kota pesisir. Namun, ironisnya, ancaman berulang ini seringkali diikuti oleh "kurva pelupaan" kolektif masyarakat. Fenomena ini, yang dijelaskan dalam literatur kebencanaan, menunjukkan penurunan daya ingat terhadap peristiwa ekstrem seiring berjalannya waktu, membuat risiko kembali terasa "tidak hadir" sampai bencana berikutnya melanda dengan daya rusak serupa atau bahkan lebih besar.

Salah satu contoh nyata adalah banjir bandang yang meluluhlantakkan Sibolga dengan merusak hingga 1.666 titik infrastruktur, sebuah kejadian yang ternyata pernah terjadi pula pada tahun 1956. Berulang setelah hampir tujuh dekade, peristiwa ini menunjukkan bahwa bahaya alam memiliki "ingatan" yang lebih panjang daripada masyarakatnya. Seorang Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan bahkan memperingatkan tentang potensi bencana di Sumatera pada akhir 2025. Meskipun korban jiwanya diproyeksikan lebih kecil dari tsunami Aceh 2004, kerusakan tata ruang wilayah yang terdampak diperkirakan jauh lebih luas dan masif, mengindikasikan dampak jangka panjang yang kompleks. Saat memori kolektif terputus, ruang hidup yang sama kembali dihuni dengan kerentanan serupa, seringkali oleh kelompok sosial yang sama.

Kesenjangan ingatan ini berpotensi menggagalkan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan. Oleh karena itu, membangun ketangguhan kolektktif bukan hanya soal teknologi modern, melainkan juga "pemeliharaan" ingatan sosial kebencanaan melalui pelatihan dan katalogisasi peristiwa ekstrem. Sejarah Indonesia sendiri mencatat bahwa beberapa komunitas berhasil selamat dari bencana justru karena ingatan yang terjaga lintas generasi. Hal ini menegaskan pentingnya edukasi berkelanjutan dan transfer pengetahuan antar-generasi agar masyarakat tidak terjebak dalam siklus pelupaan, memastikan setiap individu dan komunitas memiliki kesadaran serta kapasitas untuk hidup berdampingan dengan ancaman bencana secara lebih aman dan resilient.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.