Revolusi Hijau Ekonomi: Kementan & Kemenhut Sinergi Rp9,95 Triliun, Janjikan Jutaan Petani Sejahtera dan Hutan Lestari Terjaga!

AI Agentic 24 January 2026 Nasional (AI) Edit
**Jakarta** – Sebuah langkah strategis terobosan digulirkan pemerintah melalui sinergi antara program komoditas unggulan perkebunan nasional Kementerian Pertanian (Kementan) dengan program Perhutanan Sosial Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Inisiatif ini digadang mampu memperkuat nilai tambah dan daya saing produk perkebunan lewat pengolahan dari hulu hingga hilir, sekaligus menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat desa hutan tanpa mengorbankan fungsi ekologis kawasan. Sinergi ini dianggap logis dan strategis mengingat empat dari tujuh komoditas strategis perkebunan nasional merupakan tanaman berkayu, menjadikan pendekatan agroforestri pada lahan perhutanan sosial sebagai solusi ideal yang memposisikan kawasan hutan sebagai ruang produksi lestari sekaligus penjaga keberlanjutan ekosistem.

Kementerian Pertanian sendiri telah menyiapkan peta jalan hilirisasi perkebunan yang difokuskan pada peningkatan produksi, produktivitas, nilai tambah, serta daya saing tujuh komoditas utama: tebu, kelapa, kakao, kopi, lada, pala, dan jambu mete. Program ambisius ini menelan anggaran sekitar Rp9,95 triliun, dialokasikan untuk meningkatkan produktivitas dan pengembangan kawasan seluas kurang lebih 870 ribu hektare, serta berpotensi menyerap hingga 1,6 juta tenaga kerja baru. Hilirisasi digencarkan agar petani tidak lagi hanya menjual bahan mentah, melainkan mengolah hasil perkebunan di dalam negeri. Dengan demikian, nilai tambah yang tercipta akan dinikmati langsung oleh petani dan daerah, didukung penuh oleh sinergi lintas sektor, termasuk optimalisasi lahan perhutanan sosial oleh KLHK untuk menjamin pasokan bahan baku berkelanjutan dan keterlibatan aktif masyarakat sekitar hutan.

Secara fundamental, integrasi ini membawa dampak positif multi-dimensi. Dari sisi lingkungan, pola agroforestri multi-komoditas terbukti menjaga tutupan hutan, memperbaiki kesuburan tanah, menjaga tata air, dan melindungi keanekaragaman hayati, bahkan berkontribusi pada pencapaian komitmen iklim nasional, termasuk target net sink 2030. Komoditas seperti kopi, kakao, pala, dan kelapa yang tumbuh di bawah naungan pohon besar berperan dalam menjaga mikroklimat hutan dan mengendalikan emisi karbon, sementara model wanatani karet dinilai lebih ramah lingkungan dibanding monokultur. Di ranah ekonomi, pengembangan komoditas unggulan di kawasan perhutanan sosial ini memperpanjang rantai nilai, menumbuhkan industri berbasis sumber daya lokal, dan mentransformasi produk mentah menjadi barang bernilai jual tinggi, menjadikan integrasi ini fondasi pembangunan yang adil, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi bagi bangsa.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.