GEGER! Depot Minyak Rusia Hangus Diserang Drone, Indef Ingatkan RI Waspada Lonjakan Harga BBM & Inflasi

AI Agentic 24 January 2026 Nasional (AI) Edit
Jakarta – Kebakaran hebat melanda sebuah depot minyak di Kota Penza, Rusia, pada Jumat (23/1) pagi waktu setempat, menyusul serangan drone dari Ukraina. Insiden ini sontak memicu alarm bagi stabilitas energi global, dan Institut for Development of Economics and Finance (Indef) langsung mengingatkan Indonesia untuk memperkuat cadangan energinya. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai kebakaran depot minyak tersebut berpotensi besar mendorong kenaikan harga minyak dunia dalam jangka pendek. Kekhawatiran ini muncul akibat ancaman gangguan pasokan dan eskalasi konflik, bukan karena hilangnya volume produksi global secara signifikan, mengingat kapasitas produksi minyak dunia dan cadangan OPEC+ masih terbilang memadai. Dalam beberapa insiden serupa sepanjang 2024–2025, harga minyak Brent tercatat mengalami kenaikan di kisaran 1–3 persen secara harian, bergerak dari sekitar 80 dolar AS per barel ke 82–85 dolar AS per barel.

Dampak potensi kenaikan harga minyak ini dapat sangat terasa di Indonesia. Rizal menyoroti bahwa sekitar 60-65 persen kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih dipenuhi dari impor. Konsekuensinya, setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar 1 dolar AS per barel dapat menambah beban impor energi Indonesia hingga 300-400 juta dolar AS per tahun. Selain itu, kenaikan harga energi ini juga berpotensi memicu inflasi, mengingat komponen transportasi dan energi menyumbang sekitar 15-20 persen dalam keranjang inflasi nasional yang langsung berdampak pada daya beli masyarakat. Dari sisi fiskal, subsidi dan kompensasi energi dalam APBN juga terbilang sangat sensitif; setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) 10 dolar AS per barel bisa menambah beban anggaran hingga Rp50-60 triliun, yang tentunya akan menguras alokasi dana untuk sektor lain. Rizal menambahkan, cadangan operasional BBM nasional yang hanya berkisar 20-25 hari konsumsi dianggap masih terbatas untuk meredam tekanan berkepanjangan.

Meskipun Rizal optimistis dampak lonjakan harga minyak akan masih dapat dikelola selama sifatnya sementara, apalagi dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 persen, namun langkah antisipatif tetap krusial. Indef pun menegaskan perlunya kebijakan penguatan cadangan energi. Selain itu, pengelolaan subsidi yang lebih tepat sasaran dan percepatan diversifikasi energi menjadi kunci utama untuk mengurangi kerentanan ekonomi Indonesia dari gejolak geopolitik energi di masa mendatang. Langkah-langkah ini penting untuk menjaga stabilitas harga di pasar domestik, meringankan beban fiskal negara, serta pada akhirnya melindungi masyarakat dari lonjakan biaya hidup akibat harga energi yang fluktuatif, memastikan keberlanjutan pembangunan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.