Agam Bangkit: Ratusan Penyintas Banjir Bandang Kini Punya Rumah Layak Sementara, Kehidupan Baru Dimulai!
Sebagian besar penyintas bencana banjir bandang dan tanah longsor di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kini dapat bernapas lega. Mulai Sabtu malam (24/1), mereka resmi menempati hunian sementara (huntara) yang baru di Lapangan Sepak Bola SDN 05 Kayu Pasak. Langkah krusial ini menandai babak baru pemulihan, setelah huntara yang dibangun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut diresmikan langsung oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, serta Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah dan Bupati Agam Benni Warlis.
Sejak sore hingga malam hari, lokasi huntara dipenuhi aktivitas pemindahan barang. Para penyintas terlihat sibuk mengangkut kasur, alat masak, kompor gas, pakaian, dan perlengkapan lainnya dari lokasi pengungsian, baik menggunakan gerobak dorong maupun dipikul. Erna Fitrina, salah seorang penyintas, mengungkapkan kelegaannya setelah berhasil menata barang-barang di unit barunya. Ia menceritakan pahitnya kehilangan rumah di Sawah Laweh, Jorong Kayu Pasak, yang ludes tersapu banjir bandang saat ia sekeluarga sedang berada di Bukittinggi untuk pengobatan orang tua. Senada, Melisa, penyintas dari Gunggun, yang rumahnya berada di 'zona merah' dekat Sungai Batang Nanggang, turut merasakan syukur atas tempat tinggal yang kini layak, sembari menaruh harapan besar pada program hunian tetap dari pemerintah. Di tengah kesibukan itu, anak-anak penyintas terlihat asyik bermain dengan ceria di halaman huntara, seolah menjadi simbol kebangkitan.
Bupati Agam Benni Warlis mengonfirmasi bahwa 117 unit huntara telah siap dihuni. Peristiwa relokasi ini menjadi secercah harapan di tengah trauma mendalam akibat bencana dahsyat pada akhir November 2025. Tragedi tersebut telah menelan 166 korban meninggal dunia, 36 orang hilang, serta menghancurkan 2.284 unit rumah dan 121 sekolah, menimbulkan kerugian fantastis sekitar Rp6,51 triliun di 16 kecamatan. Ketersediaan hunian sementara ini diharapkan dapat memberikan stabilitas dan kenyamanan bagi para korban untuk membangun kembali kehidupan mereka, sekaligus menjadi jembatan penting menuju program hunian tetap yang menjadi dambaan, memastikan masyarakat Agam dapat bangkit sepenuhnya dari dampak bencana.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.