Kuda Lumping Berbalut Batik: Logo Imlek Nusantara 2026 Penuh Filosofi, Lambang Akulturasi Budaya!
Jakarta – Ketua Umum Imlek Nasional 2026, Irene Umar, secara resmi memperkenalkan logo Harmoni Imlek Nusantara 2026. Desain logo yang kaya makna ini disebut Irene sebagai representasi identitas dan ciri khas Indonesia, yang sekaligus mencerminkan akulturasi beragam budaya Tionghoa dalam bingkai keberagaman bangsa.
Logo Harmoni Imlek Nusantara tersebut digambarkan dengan bentuk kuda lumping, sebuah kesenian tradisional khas Betawi. Kuda lumping ini didominasi warna merah, dengan sentuhan warna putih pada rambut kuda yang menyerupai mahkota, melambangkan bendera kebangsaan Indonesia yang Merah Putih.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, Irene menjelaskan bahwa pada bagian mata logo kuda lumping tersebut terdapat gambar api. Ia menguraikan, elemen api ini melambangkan semangat yang membara. Lebih lanjut, ia menuturkan, kebetulan tahun perayaan Imlek 2026 bertepatan dengan tahun Kuda Api, sehingga representasi api dalam mata logo menjadi sangat relevan dan kuat. Mata api ini, lanjut Irene, juga merefleksikan semangat, keberanian, dan fokus batin, selaras dengan energi Kuda Api yang diyakini dapat menggerakkan perubahan dan menerangi arah masa depan.
Tidak hanya itu, Irene juga menyoroti adanya garis putih pada bagian mulut dan kaki kuda. Menurutnya, garis ini melambangkan pesan bahwa setiap ucapan dan langkah harus dibarengi dengan kebijaksanaan, kesadaran, dan etika yang tinggi, sebagai bekal untuk meraih harapan Indonesia Emas.
Logo ini juga diperkaya dengan tiga elemen batik khas Indonesia. Pertama, penggunaan batik Banji yang dalam konteks Imlek merepresentasikan keberuntungan yang berputar tanpa henti. Kedua, batik pucung rebung, yakni motif batik pesisir yang sering terlihat pada kain tradisional Betawi. Ketiga, detail bunga batik yang terdapat pada kaki kuda yang terangkat, merepresentasikan semangat Indonesia untuk terus melangkah maju. Irene menegaskan bahwa detail ini menjadi pengingat agar dalam setiap langkah maju, seperti kuda lumping yang bergerak "forward", kita tidak melupakan kebudayaan dan nilai kemanusiaan. Ia menggarisbawahi pentingnya tetap ingat akan akar budaya di tengah kecepatan perubahan zaman.
Sebagai detail terakhir, logo Harmoni Imlek Nusantara 2026 menampilkan dua garis putih pada bagian buntut kuda. Garis ini memiliki makna khusus, yaitu melambangkan keistimewaan perayaan Imlek tahun ini yang bertepatan dengan momen bulan suci Ramadan bagi umat Muslim, menandakan keharmonisan dan kebersamaan.
Irene berharap, perayaan Harmoni Imlek Festival 2026 ini dapat menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata Imlek yang inklusif, dirayakan dengan damai dan sejahtera. Ia menegaskan bahwa melalui perayaan ini, Indonesia ingin menunjukkan bahwa pertumbuhan dan kekuatan bangsa berasal dari harmoni dan keberagaman. Irene menyamakan semangat ini dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" atau "unity in diversity," yang menjadikan Indonesia bersatu, kokoh, dan kaya karena keberagamannya.
Imlek Festival perdana ini akan diselenggarakan mulai 17 Februari hingga 3 Maret 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta, dengan mengusung tagline "Harmoni Nusantara". Perayaan Imlek yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan ini diharapkan menjadi ruang refleksi yang berharga bagi seluruh umat beragama dan masyarakat luas.
Ketua Umum Imlek Nasional 2026, Irene Umar, telah memperkenalkan logo Harmoni Imlek Nusantara 2026 yang mengusung tema akulturasi budaya dengan motif kuda lumping khas Betawi. Logo tersebut sarat akan filosofi kebangsaan Indonesia, seperti warna bendera Merah Putih, lambang semangat Kuda Api, serta elemen batik tradisional yang mewakili keberuntungan dan langkah maju bangsa. Keunikan lain dari logo ini adalah representasi kebersamaan melalui detail yang melambangkan perayaan Imlek yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Inisiatif ini memiliki dampak signifikan bagi masyarakat, tidak hanya dalam merayakan Imlek sebagai bagian dari kekayaan budaya Tionghoa di Indonesia, tetapi juga memperkuat semangat akulturasi dan toleransi antarumat beragama. Dengan menggabungkan simbol-simbol lokal seperti kuda lumping dan batik, logo ini berhasil menjembatani tradisi dan identitas nasional, mendorong pemahaman lintas budaya, serta memposisikan keberagaman sebagai kekuatan utama bangsa, sejalan dengan visi Indonesia Emas. Ini juga berpotensi meningkatkan pariwisata dan persatuan sosial melalui perayaan yang inklusif.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.