PMI Aceh Tewas Misterius di Malaysia: DPD RI Ungkap Luka Tak Wajar, Desak Penelusuran Menyeluruh
Banda Aceh – Kisah pilu seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Aceh berakhir tragis di Malaysia. Jenazah Khasnaini Mahara (26), warga Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, yang ditemukan meninggal dunia di Johor, Malaysia, kini telah berhasil dipulangkan ke Tanah Air berkat bantuan anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman Haji Uma. Namun, proses pemulangan ini menyisakan misteri mendalam terkait kondisi jenazah yang menunjukkan luka-luka mencurigakan.
Anggota DPD RI Sudirman Haji Uma, yang akrab disapa Haji Uma, pada Rabu mengungkapkan bahwa almarhumah berasal dari Desa Hakim Bale Bujang, Kecamatan Lut Tawar. Sebelum ditemukan tak bernyawa, Khasnaini diketahui berencana untuk kembali ke kampung halamannya, namun tak pernah kesampaian. Proses pemulangan jenazah ini juga mendapat dukungan signifikan dari Gabungan Aceh Bersatu (GAB), sebuah organisasi perantau asal Aceh di Malaysia, serta Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Aceh.
Haji Uma menjelaskan, kabar duka meninggalnya Khasnaini diterima timnya di Malaysia pada akhir Januari lalu. Segera setelah itu, ia menginstruksikan timnya untuk melakukan penelusuran dan mengurus kepulangan jenazah. Jenazah Khasnaini diperkirakan tiba di Bandara Kualanamu, Medan, pada hari yang sama dengan pernyataan Haji Uma, untuk kemudian langsung dipulangkan ke Takengon.
Dari keterangan keluarga, terungkap bahwa Khasnaini pada 16 Januari lalu memang berniat pulang ke Aceh. Ia yang bekerja sebagai penjual kue di sebuah pusat perbelanjaan di Johor, menghadapi kendala paspornya yang ditahan oleh majikan. Kondisi tanpa dokumen resmi ini memaksa Khasnaini memilih jalur tidak resmi untuk pulang. Pada hari itu, ia sempat berkomunikasi terakhir dengan keluarganya sebelum dijemput oleh seorang agen yang menjanjikan akan membawanya dari Johor menuju Batam. Tragisnya, keluarga kemudian diminta mentransfer uang sebesar Rp2,5 juta untuk biaya kepulangan. Setelah transaksi tersebut, komunikasi dengan Khasnaini terputus total dan nomor teleponnya tidak lagi aktif.
Keluarga sempat berupaya mencari informasi melalui berbagai pihak, termasuk Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan jaringan pertemanan Khasnaini di Malaysia, namun tanpa hasil. Hingga akhirnya beredar informasi mengenai penemuan jenazah seorang WNI di salah satu rumah sakit di Johor. Tim Haji Uma segera mendatangi rumah sakit tersebut, melakukan pengecekan, dan mengonfirmasi identitas jenazah kepada keluarga, yang hasilnya memastikan bahwa itu adalah Khasnaini Mahara.
Yang menjadi sorotan adalah kondisi jenazah Khasnaini. Haji Uma mengungkapkan bahwa ditemukan luka-luka berupa sobekan pada beberapa bagian tubuh, termasuk di area mata dan pelipis. Informasi awal menduga almarhumah jatuh dari kapal dan terkena baling-baling. Namun, jenazah ditemukan di pinggir pantai dengan tas dan KTP masih utuh berada di dekat tubuhnya, sementara telepon genggamnya hilang.
"Kondisi ini tentu menimbulkan kecurigaan. Kalau benar jatuh dari kapal dan terkena baling-baling, bagaimana mungkin barang-barang pribadi seperti tas dan KTP masih utuh, ini harus ditelusuri sampai terang," tegas Haji Uma.
Untuk mempercepat proses pemulangan agar jenazah tidak tertahan lebih lama di Malaysia, Haji Uma memutuskan untuk tidak melakukan proses hukum di negeri jiran tersebut terlebih dahulu. Penelusuran lebih lanjut, terutama terhadap pihak agen dan rekening yang menerima transfer uang dari keluarga korban, akan dilakukan di Indonesia. Total biaya pemulangan jenazah, termasuk kargo dari Johor ke Bandara Kualanamu, mencapai Rp22 juta. Dari jumlah ini, keluarga menanggung Rp17 juta, sementara Rp5 juta ditanggung langsung oleh Haji Uma sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan.
Dalam kesempatan ini, Haji Uma menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu, khususnya GAB dan BP3MI Aceh. "Semoga almarhumah Khasnaini Mahara ditempatkan di tempat yang layak di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini," imbuhnya.
Kasus ini kembali menyoroti kerentanan para pekerja migran, terutama mereka yang terpaksa menempuh jalur tidak resmi karena berbagai kendala, seperti penahanan paspor oleh majikan. Keterlibatan agen-agen ilegal seringkali berujung pada praktik eksploitasi dan bahkan ancaman keselamatan, seperti yang diduga terjadi pada Khasnaini. Kehadiran luka-luka tak wajar pada jenazah almarhumah menekankan pentingnya investigasi menyeluruh dan serius dari pihak berwenang di Indonesia untuk mengungkap kebenaran di balik kematian ini. Hal ini krusial untuk memberikan keadilan bagi korban dan keluarganya, sekaligus sebagai peringatan keras bagi para pelaku kejahatan perdagangan manusia dan penipuan terhadap pekerja migran.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.