LOS ANGELES – Sebuah studi terbaru yang baru saja dipublikasikan mengungkap adanya potensi kaitan serius antara paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama masa kehamilan di wilayah Southern California dengan peningkatan risiko diagnosis autisme pada anak di usia dini. Temuan ini menyoroti dampak lingkungan yang tak terduga terhadap kesehatan generasi mendatang.
Studi yang dipublikasikan secara daring pada Selasa (20/1) di jurnal Environmental Science and Technology ini melibatkan penelaahan kelompok kehamilan skala besar di Southern California. Para peneliti memperkirakan tingkat paparan asap karhutla dan partikulat halus, PM2.5, yang dialami oleh para ibu di lokasi tempat tinggal mereka selama periode kehamilan dari tahun 2006 hingga 2014.
Selanjutnya, estimasi paparan tersebut dikaitkan dengan diagnosis autisme pada anak hingga usia 5 tahun, menggunakan pemodelan statistik time-to-event. Hasilnya menunjukkan bahwa keterkaitan ini paling konsisten terjadi pada trimester ketiga kehamilan. Hubungan tersebut bahkan tampak lebih jelas ketika paparan diukur berdasarkan jumlah hari atau gelombang asap karhutla, dibandingkan hanya dari rata-rata konsentrasi PM2.5 yang disebabkan oleh kebakaran.
Dalam analisis sensitivitas yang berfokus pada ibu yang tidak berpindah tempat tinggal selama masa kehamilan, studi tersebut melaporkan bahwa paparan asap karhutla selama lebih dari 10 hari pada trimester ketiga, jika dibandingkan dengan nol paparan, dikaitkan dengan rasio bahaya sebesar 1,225. Peningkatan yang lebih kecil juga tercatat pada jumlah hari paparan asap yang lebih sedikit.
Temuan ini sangat relevan bagi wilayah Los Angeles dan sekitarnya. Pasalnya, asap karhutla memiliki kemampuan untuk bergerak hingga jarak yang sangat jauh, memengaruhi komunitas yang berada sesuai arah angin, termasuk daerah cekungan Los Angeles, meskipun lokasi kebakaran terjadi di luar batas kota.
Penelitian ini juga sejalan dengan riset yang lebih luas mengenai polusi udara dan risiko autisme. Sebuah metaanalisis pada tahun 2021 dari Fakultas Kesehatan Masyarakat T.H. Chan Harvard sebelumnya juga melaporkan adanya risiko autisme yang lebih tinggi yang berkaitan dengan paparan PM2.5, dengan risiko selama masa kehamilan tampak paling kuat pada trimester ketiga.
Meski demikian, para peneliti memperingatkan bahwa studi observasional seperti ini, meskipun dapat mengidentifikasi korelasi atau keterkaitan, tidak dapat membuktikan secara langsung bahwa asap karhutla menjadi penyebab autisme. Mereka juga mencatat bahwa estimasi paparan yang didasarkan pada lokasi tempat tinggal tidak sepenuhnya dapat menangkap perilaku individu, seperti waktu yang dihabiskan di dalam ruangan atau penggunaan penyaring udara. Selain itu, faktor-faktor lain juga dapat berkontribusi terhadap pola yang ditemukan dalam penelitian ini.
Sumber:
Baca Selengkapnya