Jangan Anggap Remeh! Imunisasi Lengkap Kunci Jaga Anak dari Fase Kritis Penyakit Musim Hujan

AI Agentic 30 January 2026 Nasional (AI) Edit
Musim hujan seringkali membawa serta peningkatan risiko berbagai penyakit yang bisa berujung fatal jika tidak ditangani dengan tepat. Prof. Dr. dr Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K), seorang ahli dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menegaskan bahwa imunisasi lengkap dan terjadwal adalah benteng utama untuk mencegah infeksi hingga fase kritis.

Menurut Anggraini, jika imunisasi anak sudah lengkap sesuai jadwal dan usia, berbagai risiko penyakit sudah dapat diminimalisir. Namun, bagi yang belum terpenuhi, ia menekankan bahwa "tidak ada kata terlambat" untuk segera melengkapi imunisasi. Imunisasi yang tertinggal bisa "dikejar" agar perlindungan optimal tetap didapatkan.

IDAI sendiri telah mengeluarkan anjuran vaksinasi yang dapat dipenuhi di setiap jenjang usia. Anggraini menambahkan, konsep imunisasi ganda (multiple injection) sangat membantu agar beberapa jenis imunisasi bisa diberikan sekaligus. Penting juga untuk melakukan imunisasi booster di musim penghujan dan mengejar imunisasi tahunan lebih awal.

Ia mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap fase kritis pada penyakit yang umum saat musim hujan, seperti demam berdarah dengue (DBD). Fase kritis DBD ditandai saat demam justru turun di bawah 38 derajat Celcius tanpa bantuan obat-obatan. Gejala lain yang menyertai bisa berupa sakit perut, mual, muntah-muntah, anak menjadi sangat lemas hingga tertidur, bahkan muncul perdarahan seperti mimisan atau gusi berdarah. "Jika anak mulai berbicara tidak jelas (ngaco) atau kejang, itu adalah tanda bahaya yang mengharuskan pasien segera dibawa ke rumah sakit," tegas Anggraini.

Untuk penyakit influenza atau flu, tanda kritis yang patut diwaspadai meliputi demam, batuk, kejang, napas cepat disertai tarikan dinding dada, bibir membiru, atau tanda dehidrasi seperti tidak buang air kecil selama 5-6 jam. Kondisi anak yang tampak sangat lemas pada fase ini juga memerlukan penanganan medis segera di rumah sakit.

Musim penghujan juga meningkatkan risiko leptospirosis, penyakit yang memiliki fase akut dan fase imun. Meski belum ada vaksinnya, Anggraini menjelaskan bahwa penyakit ini disebabkan oleh bakteri dan dapat diobati dengan pemberian antibiotik.

Diare juga menjadi perhatian khusus. Orang tua perlu waspada jika anak malas minum hingga buang air kecil sedikit (menandakan dehidrasi), buang air besar berdarah, demam tinggi atau justru tubuh menjadi dingin, muntah hebat, sangat loyo, kejang, dan kesulitan bernapas.

Penyakit menular seperti campak, yang sangat mudah menyebar di musim hujan, juga berisiko tinggi menyebabkan komplikasi serius pada telinga, paru-paru, bahkan otak jika memasuki fase kritis. Begitu pula dengan rubella, yang berpotensi menyebabkan bayi lahir cacat jika menjangkiti ibu hamil.

Profesor Anggraini Alam, yang juga Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung, menekankan agar tidak menganggap remeh penyakit seperti cacar air atau campak. "Mereka bisa menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk Reye Sindrom, yaitu kondisi di mana hati dan otak anak penderita cacar air bisa rusak jika diberikan golongan aspirin, yang seringkali memerlukan ventilator," jelasnya.

Terakhir, Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit tangan, kaki, dan mulut, meskipun sering dianggap ringan, memiliki komplikasi yang bisa menyebar luas. Penyakit ini menyebabkan sariawan, anak enggan minum sehingga rentan dehidrasi, dan sangat menular terutama melalui air liur anak-anak. Anggraini mengingatkan bahwa seringkali kasus HFMD yang berat terlewatkan karena fokus hanya pada gejala kulit yang ringan.

Secara keseluruhan, pesan kunci dari para ahli kesehatan adalah pentingnya imunisasi lengkap dan tepat waktu sebagai garda terdepan dalam menghadapi ancaman penyakit di musim hujan. Kewaspadaan terhadap gejala awal dan fase kritis dari berbagai penyakit seperti DBD, flu, leptospirosis, diare, campak, rubella, cacar air, hingga HFMD sangatlah vital. Imbauan ini bukan hanya untuk melindungi individu, tetapi juga memiliki dampak besar bagi masyarakat. Dengan tingkat imunisasi yang tinggi dan kesigapan dalam penanganan dini, beban rumah sakit dapat berkurang, penyebaran penyakit menular dapat ditekan, dan risiko komplikasi jangka panjang serta kematian pada anak-anak dapat diminimalisir, menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi seluruh populasi.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.