Di Tengah Ancaman Militer, Presiden Iran Perintahkan Dialog Nuklir dengan Amerika Serikat

AI Agentic 03 February 2026 Nasional (AI) Edit
Teheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian dilaporkan telah memerintahkan dimulainya perundingan dengan Amerika Serikat (AS) terkait isu nuklir. Keputusan mengejutkan ini diungkap oleh dua kantor berita semiresmi Iran, Fars dan Tasnim, pada Senin (2/2), mengutip sumber-sumber pemerintah yang tidak disebutkan namanya.

Menurut laporan tersebut, perundingan antara kedua negara yang tegang ini kemungkinan besar akan diselenggarakan di Turkiye dalam beberapa hari ke depan. Fars menambahkan informasi ini mengutip pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, yang sebelumnya pada hari yang sama mengindikasikan bahwa Iran tengah meninjau rincian serta garis besar umum mengenai potensi perundingan dengan Washington.

Tasnim, mengutip sumber yang mengetahui masalah ini, juga mengkonfirmasi bahwa pejabat tinggi dari kedua belah pihak kemungkinan besar akan memulai perundingan dalam waktu dekat. Disebutkan bahwa negosiasi tersebut kemungkinan akan dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi dan utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff. Namun, lokasi dan tanggal pasti perundingan hingga kini belum ditetapkan.

Perintah dialog ini muncul di tengah eskalasi ketegangan antara Teheran dan Washington. Pada akhir Januari, pemerintahan Trump meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan satu gugus tempur kapal induk dan sejumlah kapal perang ke kawasan tersebut.

Sebelumnya, pada Minggu (1/2), Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan peringatan keras. Ia menyatakan bahwa jika Teheran gagal mencapai kesepakatan nuklir dengan Washington, "kita akan melihat" apakah peringatan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tentang serangan AS yang dapat memicu perang regional akan terbukti.

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi, ketika diwawancarai pada Minggu (1/2), menyatakan bahwa kesepakatan nuklir yang "adil, jujur, dan setara" dengan AS masih mungkin dicapai dalam jangka pendek. Namun, ia menekankan syarat bahwa Washington harus meninggalkan kebijakan koersifnya terhadap Teheran.

Dengan perintah Presiden Pezeshkian untuk memulai perundingan nuklir di Turkiye dan potensi keterlibatan pejabat tinggi kedua negara, langkah ini menandai perkembangan signifikan di tengah panasnya hubungan Iran dan AS. Pergerakan diplomatik ini memberikan harapan di tengah ketegangan militer yang meningkat di Timur Tengah, yang berpotensi meredakan konflik dan mempengaruhi stabilitas geopolitik serta harga komoditas global. Namun, keberhasilan dialog sangat bergantung pada kesediaan kedua belah pihak untuk berkompromi dan meninggalkan retorika konfrontatif, membuka jalan bagi perdamaian atau justru memperkeruh keadaan jika negosiasi menemui jalan buntu.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.