Keadilan Datang Setelah Dua Tahun: Jawa Barat Akhirnya Sabet Emas Kickboxing PON 2024!
Tim kickboxing putri Jawa Barat akhirnya dapat bernapas lega. Setelah penantian panjang penuh drama, mereka resmi menyabet medali emas dari cabang creative form hand tim putri di Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024. Keputusan krusial ini datang setelah Dewan Hakim PB PON menerima banding yang diajukan kontingen Jawa Barat, sebuah langkah yang mengoreksi hasil pertandingan dua tahun silam.
Dua srikandi Jabar, Adilla Khairiyyah Ramdani dan Anggita Karna Deanty, kini resmi berstatus peraih emas. Penyerahan medali dilakukan langsung oleh Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Tb. Lukman Djajadikusuma, menyusul putusan Dewan Hakim PB PON yang telah ditetapkan dan dikuatkan oleh Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI).
Tb. Lukman Djajadikusuma menjelaskan, proses pengalihan medali semacam ini merupakan bagian dari mekanisme resmi organisasi olahraga nasional. Hal itu ditempuh setelah ditemukannya kesalahan teknis di cabang kickboxing yang sayangnya belum sempat terselesaikan sebelum penutupan PON 2024 silam. Ia menegaskan, setiap laporan telah diproses berjenjang, mulai dari petugas lapangan hingga Dewan Teknik.
Menurutnya, jika seorang peraih perak naik menjadi emas, maka otomatis peraih perunggu akan naik ke perak. Proses ini memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar karena harus dilakukan dengan cermat dan melalui tahapan yang berjenjang. Ia juga mengungkapkan bahwa kasus serupa, termasuk isu doping, masih dalam proses penyelesaian. Dengan adanya keputusan ini, yang akrab disapa Ade Lukman tersebut menegaskan bahwa langkah ini adalah bukti nyata komitmen KONI untuk memastikan tegaknya keadilan dan integritas dalam kompetisi olahraga.
Bagi Adilla Khairiyyah Ramdani dan pasangannya, Anggita Karna Deanty, momen ini sangat emosional. Setelah menanti kejelasan selama hampir dua tahun, rasa lega dan bahagia tak terbendung. Adilla mengungkapkan perasaannya, ia sempat dilanda kesedihan dan kekecewaan mendalam karena masalah ini berlarut-larut, padahal keputusan seharusnya sudah ada sebelum penutupan PON.
Adilla menceritakan, sejak pertandingan berakhir, pihak Jawa Barat langsung mengajukan protes resmi. Proses pun berlanjut ke sidang teknis. "Sejak pengumuman di lapangan, manajer saya langsung protes. Kami yakin hasilnya," ujar Adilla. Ia bersyukur, keputusan akhir tetap menetapkan Jawa Barat sebagai juara pertama. "Bonus medali emas sebenarnya sudah saya terima, hanya penyerahan medalinya yang baru dilakukan sekarang," tambahnya.
Ke depan, Adilla berharap regulasi dalam olahraga kickboxing semakin kuat dan konsisten agar tidak ada lagi atlet yang menjadi korban kesalahan teknis. Ia juga menegaskan komitmennya untuk terus berkembang dan berprestasi, sembari berharap kickboxing Indonesia semakin berjaya dengan aturan yang ditegakkan secara konsisten.
Dengan dikukuhkannya Jawa Barat sebagai peraih emas, secara otomatis tim DKI Jakarta yang sebelumnya mengklaim medali emas di nomor creative form hand tim putri harus merelakan posisinya. Berikut adalah perolehan medali final untuk nomor creative form hand tim putri kickboxing PON 2024 setelah putusan Dewan Hakim PB PON Aceh Sumut XXI 2024:
Jawa Barat (Adilla Khairiyyah Ramdan dan Anggita Karna Deanty) - Emas
Sumatera Selatan (Sevi Stella Aurel/Nayla Azzani) - Perak
Jawa Timur (Bella Aiska Oktavia R/Bellinda Revandari) - Perunggu
Jawa Tengah (Sindhytyas Putri Vedhayana/Chavella Teyza Putri Vedhayana) - Perunggu
Pencapaian medali emas kickboxing bagi Jawa Barat ini menjadi sorotan penting dalam dunia olahraga nasional. Keputusan yang datang setelah proses banding panjang ini tidak hanya mengembalikan hak atlet yang dirugikan, tetapi juga menegaskan komitmen federasi olahraga dalam menjunjung tinggi keadilan dan integritas kompetisi. Bagi masyarakat, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya transparansi dan penegakan regulasi yang ketat dalam setiap ajang olahraga. Proses berjenjang yang dilalui, dari banding hingga penetapan oleh Badan Arbitrase Olahraga Indonesia, menunjukkan bahwa sistem pengawasan dan koreksi tetap berjalan, memberikan harapan bagi atlet bahwa setiap kecurangan atau kesalahan teknis akan ditindaklanjuti. Ini juga menjadi pelajaran berharga agar setiap penyelenggaraan event olahraga besar, seperti PON, mampu meminimalisir kesalahan teknis sejak awal, demi menjaga semangat fair play dan menghindari kerugian emosional maupun material bagi para atlet yang telah berjuang keras.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.