Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat kejutan dengan mengumumkan penangguhan rencana penerapan tarif terhadap sejumlah negara Eropa. Keputusan ini datang bersamaan dengan tercapainya kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan kawasan Arktik yang lebih luas, sebuah langkah yang langsung disambut baik oleh para pemimpin di Benua Biru. Pengumuman tersebut disampaikan Trump pada Rabu melalui platform Truth Social miliknya, menyusul pertemuan penting dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Davos, Swiss.
Para pemimpin Eropa tak menyembunyikan kelegaan mereka. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, melalui platform X, menyatakan, "Hari ini berakhir dengan catatan yang lebih dibanding awalnya. Kami menyambut baik bahwa POTUS (Trump) telah menegaskan tidak akan mengambil Greenland dengan kekerasan dan menangguhkan perang dagang." Senada, Perdana Menteri Belanda Dick Schoof melihat langkah ini sebagai sinyal positif menuju deeskalasi ketegangan, di mana rencana tarif yang sebelumnya mengancam tidak jadi diberlakukan. Sebelumnya, Trump mengancam akan memberlakukan tarif 10 persen atas barang-barang dari delapan negara Eropa – termasuk Denmark, Norwegia, Swedia, dan Belanda – mulai 1 Februari, yang akan meningkat menjadi 25 persen pada Juni, kecuali tercapai kesepakatan untuk pembelian Greenland secara penuh.
Menteri Luar Negeri Swedia Maria Malmer Stenergard juga menyambut baik keputusan Trump menarik diri dari rencana tarif. Ia menegaskan, "Tuntutan untuk memindahkan batas wilayah telah menerima kritik keras yang memang pantas. Itulah kenapa kami berulang kali menyatakan tidak akan membiarkan diri kami diperas. Tampaknya kerja sama kami dengan para sekutu telah membuahkan hasil." Sementara itu, Menteri Keuangan Swedia Elisabeth Svantesson menekankan bahwa tekanan dari Eropa "bernilai penting" dalam menghadapi "pemerasan yang absurd" terkait Greenland. Para pemimpin Eropa juga kembali menyerukan pentingnya kerja sama antara AS, Kanada, dan Eropa dalam kerangka NATO untuk memperkuat keamanan di wilayah Arktik guna menghadapi potensi ancaman dari Rusia dan China.
Sumber:
Baca Selengkapnya