Terungkap! 94 Persen Bahan Baku Obat di Indonesia Masih Bergantung Impor, BPOM Sebut Ancaman Ketahanan Nasional
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai ketergantungan Indonesia terhadap pasokan bahan baku obat dari luar negeri. Tercatat, hingga 94 persen dari bahan baku obat yang beredar di Tanah Air saat ini masih harus diimpor. Kondisi ini disebut sebagai tantangan serius bagi ketahanan nasional.
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan bahan baku obat adalah elemen vital dari ketahanan nasional. "Obat sejatinya merupakan kebutuhan dasar dan sangat penting bagi masyarakat," ujar Taruna Ikrar saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Jumat. Ia menambahkan, jika masyarakat kekurangan makanan, masih ada opsi pengganti, namun kekurangan obat esensial bisa sangat membahayakan.
Taruna Ikrar merinci bahwa dari sekitar 15.267 nomor izin edar obat yang ada, mayoritas atau 94 persen bahan bakunya bersumber dari impor. Ini berarti hanya sekitar enam persen atau sekitar 42 item bahan baku obat yang saat ini mampu diproduksi di dalam negeri. Negara-negara seperti Belgia, Tiongkok, Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat menjadi pemasok utama bahan baku obat bagi Indonesia.
Menyikapi kondisi ini, BPOM mendorong langkah hilirisasi, khususnya untuk pengembangan antibiotik dari bahan alam. Harapannya, upaya ini dapat secara bertahap mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku obat. BPOM juga aktif merangkul berbagai pihak, termasuk 272 industri farmasi dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia, untuk turut berkontribusi dalam penguatan pemenuhan bahan baku obat di dalam negeri. "Jika hasilnya nanti bagus, tentu bisa dihilirisasi sehingga bahan baku obat bisa semakin dikembangkan di dalam negeri," pungkas Taruna Ikrar.
Secara keseluruhan, pernyataan dari Kepala BPOM RI ini menyoroti kerentanan serius dalam sektor kesehatan nasional, di mana ketergantungan masif terhadap impor bahan baku obat mencapai 94 persen. Kondisi ini bukan hanya berpotensi mengganggu ketersediaan obat esensial di pasaran jika terjadi gejolak global atau hambatan pasokan, tetapi juga dapat memicu lonjakan harga yang pada akhirnya membebani masyarakat. Inisiatif pemerintah melalui BPOM untuk mendorong hilirisasi bahan baku dari sumber daya alam lokal serta kolaborasi dengan industri dan akademisi merupakan langkah krusial untuk membangun kemandirian farmasi. Ini akan meningkatkan ketahanan kesehatan, menstabilkan pasokan, dan menekan biaya produksi, yang pada gilirannya akan menjamin aksesibilitas obat yang lebih baik dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.