Pertamina Bidik Indonesia Emas 2045 Lewat 'Beyond Energy': Dorong Transisi Hijau, Berdayakan Masyarakat, dan Siaga Bencana

AI Agentic 14 February 2026 Nasional (AI) Edit
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri secara lugas memaparkan visi "Pertamina Beyond Energy" sebagai wujud nyata kepemimpinan perusahaan dalam transisi energi hijau dan ekonomi sirkular. Paparan ini disampaikan dalam ajang Green Leadership PROPER 2024-2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta, pada Selasa 10 Februari 2026. Komitmen ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi nasional yang selaras dengan kelestarian lingkungan.

Simon menjelaskan bahwa prinsip keberlanjutan Pertamina diharapkan menjadi fondasi penting menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045. Ia menambahkan, setiap program Pertamina, baik operasional maupun sosial, senantiasa dijalankan selaras dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia dan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), sebagai bentuk komitmen terhadap ketahanan energi, lingkungan hidup, dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk mencapai ambisi tersebut, Pertamina menerapkan strategi pertumbuhan ganda atau Dual Growth Strategy. Pertama, memaksimalkan bisnis eksisting guna memenuhi keamanan energi nasional saat ini. Kedua, membangun bisnis rendah karbon atau energi hijau, yang dirancang untuk mempercepat transisi energi dan ekosistemnya sebagai sumber energi masa depan.

Sejalan dengan strategi tersebut, Simon mengungkapkan bahwa Pertamina juga mengutamakan upaya dekarbonisasi. Ini termasuk pengembangan ekosistem green hydrogen, peningkatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT), serta proyek Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS) yang berpotensi menurunkan emisi hingga 980 ribu ton CO₂e. Tidak hanya itu, Pertamina juga berinovasi dalam produk-produk ramah lingkungan, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) rendah sulfur yang sejalan dengan Peta Jalan Kementerian ESDM, serta Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang menjadi terobosan bahan bakar penerbangan berbahan baku minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO). Simon menegaskan, inisiatif-inisiatif ini merupakan bentuk kepemimpinan Pertamina dalam mengorkestrasi transisi energi nasional, seraya menurunkan emisi transportasi dan mendorong standar BBM yang lebih bersih di Indonesia.

Simon juga menekankan bahwa tantangan lingkungan adalah tanggung jawab bersama, yang memerlukan solusi berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan pengelolaan sampah nasional dalam 151 program Pertamina yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari komunitas perkotaan, pedesaan, hingga pesisir.

Sebagai salah satu inovasi unggulan, Simon menyebutkan program WASTECO atau Waste to Energy for Community di Balikpapan. Melalui program ini, sampah organik diolah menjadi gas metana yang kemudian dialirkan langsung ke rumah warga dan UMKM di sekitar TPA Manggar untuk kebutuhan memasak, memberikan dampak nyata bagi ekonomi lokal. Selain itu, Pertamina juga telah mengembangkan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Energi Berdikari (DEB) di 252 titik lokasi. Program DEB ini mengintegrasikan pemanfaatan energi baru terbarukan dengan penguatan ekonomi desa, mentransformasi pengelolaan sampah di tingkat masyarakat menjadi sumber daya produktif, sekaligus membangun kemandirian energi dan ekonomi.

Di sisi lain, Pertamina turut menegaskan komitmennya dalam aspek kemanusiaan. Menurut Simon, setiap bencana harus dijawab dengan kehadiran nyata. Sepanjang tahun 2025, Pertamina telah menyalurkan bantuan kebencanaan ke lebih dari 70 Kabupaten dan Kota di seluruh Indonesia. Perusahaan bergerak menembus keterbatasan untuk memastikan penyaluran energi seperti Bright Gas, BBM, dan Avtur tetap tersedia untuk kebutuhan dasar dan evakuasi, hingga mengalirkan air bersih yang sangat dibutuhkan para pengungsi.

Simon menutup paparannya dengan menyatakan bahwa sinergi antara program TJSL Pertamina yang berdampak dan bisnis perusahaan tidak hanya menyelamatkan lingkungan saat ini, tetapi juga membangun benteng pertahanan masyarakat agar tetap berdaya saat bencana melanda. Upaya ini, sebutnya, selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, dan ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menciptakan Indonesia ASRI yang tidak hanya indah secara lingkungan, tetapi juga kokoh secara ketahanan energi.

Sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, Pertamina berkomitmen penuh dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya ini sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi perusahaan.



Rangkuman poin-poin penting dari paparan Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri adalah komitmen perusahaan terhadap "Pertamina Beyond Energy" yang mencakup kepemimpinan dalam transisi energi hijau, pengembangan ekonomi sirkular, dan penguatan ketahanan energi nasional yang selaras dengan kelestarian lingkungan. Pertamina mengadopsi strategi pertumbuhan ganda dengan memaksimalkan bisnis eksisting dan membangun usaha rendah karbon, serta secara aktif menjalankan program dekarbonisasi seperti green hydrogen, EBT, CCS/CCUS, dan pengembangan bahan bakar ramah lingkungan. Lebih lanjut, perusahaan ini juga fokus pada pengelolaan lingkungan melalui 151 program sampah di masyarakat, termasuk inovasi WASTECO, serta program Desa Energi Berdikari di 252 lokasi untuk kemandirian energi dan ekonomi desa. Tak ketinggalan, Pertamina menunjukkan komitmen kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan kebencanaan di lebih dari 70 Kabupaten/Kota pada tahun 2025, memastikan ketersediaan energi dan kebutuhan dasar bagi korban bencana.

Inisiatif-inisiatif ini memiliki dampak signifikan bagi masyarakat luas. Pertama, menjamin ketahanan energi nasional melalui pasokan yang stabil sekaligus transisi menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Kedua, berkontribusi pada lingkungan hidup yang lebih baik dengan penurunan emisi karbon, pengelolaan sampah yang efektif, dan peningkatan kualitas udara. Ketiga, memberdayakan ekonomi lokal melalui program-program seperti WASTECO yang mengubah sampah menjadi sumber energi bagi rumah tangga dan UMKM, serta Desa Energi Berdikari yang memperkuat ekonomi pedesaan berbasis energi terbarukan. Keempat, meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana alam melalui respons cepat dan penyaluran bantuan esensial. Secara keseluruhan, langkah Pertamina ini tidak hanya mengukuhkan perannya sebagai pemimpin di sektor energi, tetapi juga sebagai pilar pembangunan berkelanjutan yang menciptakan masa depan lebih hijau, mandiri, dan tangguh bagi Indonesia.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.