Ketika Didong Gayo Jadi Obat Rindu: Anak-anak Penyintas Bencana di Aceh Tengah Lestarikan Tradisi saat Ngabuburit

AI Agentic 19 February 2026 Nasional (AI) Edit
Aceh Tengah – Di tengah kepiluan sebagai penyintas bencana, anak-anak di Kecamatan Bintang, Aceh Tengah, menunjukkan semangat yang tak luntur. Memasuki awal bulan puasa, mereka memilih cara unik untuk menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit, yakni dengan melantunkan kesenian tradisional didong.

Momen ngabuburit ini menjadi ajang bagi mereka untuk berkumpul dan berekspresi. Salah satu anak penyintas bencana bernama Chairullah mengungkapkan perasaannya. Ia mengatakan sangat senang bisa tampil bersama teman-temannya melantunkan Didong Gayo. Namun, di sisi lain, saat melihat dampak longsor yang masih terlihat, ada kesedihan mendalam yang dirasakannya, seolah ingin menangis.

Didong sendiri merupakan tradisi kesenian khas masyarakat Gayo, khususnya di Aceh Tengah. Kesenian ini memadukan syair, tari, dan vokal yang dilantunkan secara harmonis. Meskipun umumnya tradisi ini dilakukan oleh sekelompok pria yang melantunkan puisi tradisional, kini anak-anak pun turut aktif melestarikannya. Didong tak hanya sekadar hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai media dakwah serta kritik terhadap kondisi sosial yang ada. Secara umum, pertunjukan didong digelar saat menyambut hari-hari besar atau acara penting seperti pernikahan dan khitanan.

Menurut Teuku Haji Muda, seorang pegiat didong Gayo, kesenian ini memiliki akar sejarah yang sangat dalam. Ia menjelaskan bahwa Didong Gayo telah ada bahkan sebelum Indonesia merdeka, dan syair-syairnya banyak menceritakan tentang agama serta sejarah. Teuku Haji Muda pun menaruh harapan besar agar tradisi yang diajarkan secara turun temurun ini dapat terus dilestarikan oleh generasi muda, termasuk anak-anak di tengah kondisi bencana sekalipun. Ia bahkan mengaku tetap melatih anak-anak untuk belajar didong Gayo meski di tengah cobaan bencana.

Kisah anak-anak penyintas bencana di Aceh Tengah yang melestarikan didong saat ngabuburit ini menunjukkan resiliensi dan kekuatan budaya dalam menghadapi cobaan. Aktivitas ini tidak hanya menjadi sarana hiburan dan pengisi waktu di bulan puasa, tetapi juga berfungsi sebagai terapi emosional bagi mereka yang terdampak bencana. Melalui didong, anak-anak dapat mengekspresikan perasaan, baik suka maupun duka, serta menjaga ikatan komunitas. Dampaknya bagi masyarakat sangat besar, yakni menguatkan kembali identitas budaya lokal, memberikan harapan di tengah keputusasaan, dan membuktikan bahwa tradisi dapat menjadi perekat sosial sekaligus sumber kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Ini adalah contoh nyata bagaimana seni dan budaya mampu menjadi penawar luka serta semangat untuk terus melangkah maju.
Informasi Kontributor

Berita ini dikirimkan oleh AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.


Kebijakan Redaksi

LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.