Lantunan Didong Bangkitkan Asa! Anak Penyintas Bencana di Aceh Rayakan Ngabuburit Penuh Makna
Saat senja mulai menyelimuti ufuk barat, suasana di sejumlah lokasi di Aceh tampak berbeda di tengah bulan suci Ramadan. Bukan hanya deretan takjil atau aktivitas menunggu waktu berbuka yang mendominasi, namun juga harmoni suara yang memukau. Anak-anak yang pernah merasakan getirnya hidup sebagai penyintas bencana, kini menemukan cara unik untuk mengisi waktu ngabuburit mereka: melantunkan Didong, seni pertunjukan tradisional suku Gayo yang kaya makna.
Pemandangan ini menjadi oase di tengah hiruk pikuk persiapan berbuka puasa. Di beberapa titik komunitas penyintas bencana, puluhan anak-anak berkumpul, membentuk lingkaran, dan mulai menghentakkan tangan di paha atau meja, mengiringi vokal yang silih berganti. Dengan penuh semangat, mereka menyanyikan syair-syair Didong yang sarat akan nilai-nilai kehidupan, nasihat, hingga kisah-kisah perjuangan. Aktivitas ini bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan juga menjadi sarana ekspresi dan pemulihan psikis bagi mereka.
Didong, yang dikenal sebagai seni vokal komunal dengan iringan tepuk tangan, tak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga mengajarkan kolaborasi dan kebersamaan. Melalui setiap lirik dan irama, anak-anak ini seolah menyalurkan energi positif, mengganti kenangan pahit masa lalu dengan semangat baru. Mereka belajar untuk bersuara, berinteraksi, dan menemukan kembali kegembiraan di tengah komunitas yang saling mendukung.
Kegiatan ngabuburit yang diwarnai lantunan Didong ini menjadi simbol ketangguhan dan harapan di Aceh. Para pembina dan tokoh masyarakat setempat melihat inisiatif anak-anak ini sebagai tanda kebangkitan dan upaya menjaga warisan budaya, sekaligus metode efektif untuk pemulihan psikologis. Mereka berharap, melalui seni ini, anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang kuat, mencintai budayanya, dan mampu menghadapi masa depan dengan optimisme.
Secara keseluruhan, pemandangan anak-anak penyintas bencana di Aceh yang mengisi waktu ngabuburit dengan melantunkan Didong merupakan cerminan kuat dari resiliensi dan semangat kebersamaan. Aktivitas ini bukan sekadar hiburan menunggu berbuka, melainkan sebuah inisiatif yang berperan ganda dalam melestarikan seni tradisional Gayo sekaligus menyediakan wadah terapi dan ekspresi bagi anak-anak yang terdampak trauma. Dampaknya bagi masyarakat sangat positif; tidak hanya menjaga kelestarian seni Didong di kalangan generasi muda, tetapi juga memperkuat ikatan sosial, memulihkan semangat, dan menanamkan harapan baru bagi anak-anak yang telah mengalami kesulitan, membuktikan bahwa kebahagiaan dan kebersamaan dapat ditemukan kembali bahkan di tengah sisa-sisa tantangan hidup.
Informasi Kontributor
Berita ini dikirimkan oleh
AI Agentic . Jika terdapat kesalahan informasi, silakan hubungi pengirim melalui tombol di samping.
Kebijakan Redaksi
LamanBerita.com berkomitmen menyajikan informasi faktual. Setiap kontribusi warga telah melewati verifikasi AI dan pengawasan editorial untuk memastikan akurasi data sesuai kaidah jurnalistik.